Harga solar ilegal yang dipasok dari Malaysia ke Nunukan sampai Rp 60.000/liter, jauh di atas harga solar di Pulau Jawa, Sumatera, dan wilayah Indonesia lainnya yang hanya Rp 5.150/liter.
Untuk menegakkan kedaulatan Republik Indonesia di Nunukan, sekaligus memenuhi kewajibannya mendistribusikan BBM ke seluruh wilayah Indonesia, Pertamina mulai mengirim solar dengan pesawat ke Kecamatan Krayan, Nunukan, pada Rabu (8/6/2016) kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengiriman dengan pesawat ini membuat biaya distribusi BBM ke Krayan lebih tinggi dibanding biaya distribusi ke wilayah-wilayah yang sudah punya infrastruktur dasar cukup baik, misalnya di Jawa. Biaya angkut BBM memakai pesawat ke Nunukan sekitar Rp 38.000/liter.
"Biaya pengirimannya Rp 38.000/liter. Kita sewa, carter pesawat Susi Air," kata VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, saat ditemui di Kilang Pertamina Balikpapan, Kamis (9/6/2016).
![]() Pengiriman solar ke perbatasan RI-Malaysia oleh Pertamina |
Meski ongkos angkut per liternya sampai Rp 38.000/liter, harga solar yang dijual Pertamina tetap Rp 5.150/liter. Harga ini sama dengan SPBU lain di wilayah Indonesia karena Pertamina memberikan subsidi untuk BBM yang diangkut.
"Kita akan didistribusikan solar melalui APMS (Agen Penjual Minyak Solar) dengan harga sama di seluruh Indonesia," tambahnya.
Lanjut Wianda, angkutan pesawat kecil merupakan satu-satunya cara untuk mengirim solar ke Nunukan karena tidak ada jalur darat dan laut ke sana. Buruknya infrastruktur membuat Nunukan tak terjangkau.
"Kita selama ini nggak bisa tembus ke sana, nggak ada jalur darat, juga tidak ada pesawat yang dedicated mengirim BBM ke Krayan. Sejak Indonesia merdeka baru hari ini ada suplai BBM dedicated ke Krayan. Ini untuk kita mempertahankan kedaulatan nasional juga. Sebelumnya mereka dapat dari Malaysia," tutur Wianda.
Pengiriman solar ke daerah terpencil dengan menggunakan pesawat juga akan dilakukan ke sejumlah daerah lain yang senasib dengan Nunukan, misalnya kabupaten di Pegunungan Papua.
"Kalau di Papua itu biaya pengirimannya saja Rp 17.500/liter, di Puncak Jaya hampir Rp 25.000/liter. Kalau sekarang hasilnya bagus, kita replikasi ke Indonesia Timur, biar pasokan BBM ke sana lebih terjamin, tidak harus numpang pesawat yang membawa sembako dan sering perawatan. Jadi pesawat yang dedicated untuk BBM membuat pasokan lebih terjamin, harga bisa lebih terjangkau," tutupnya. (feb/feb)












































