Jokowi: Lihat Malam Hari dari Atas RI, Banyak Wilayah Masih Gelap

Jokowi: Lihat Malam Hari dari Atas RI, Banyak Wilayah Masih Gelap

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 10 Jun 2016 15:30 WIB
Jokowi: Lihat Malam Hari dari Atas RI, Banyak Wilayah Masih Gelap
Foto: Setpres
Banten - Saat melakukan groundbreaking atau pemancangan tiang pertama proyek PLTU Lontar Unit IV di Desa Kemiri, Tangerang, Banten, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan keprihatinannya karena masih banyak wilayah Indonesia, terutama pedesaan, yang belum mendapat listrik.

Desa menjadi gelap ketika malam tiba akibat tak ada listrik. Anak-anak sekolah tak bisa belajar dengan baik pada malam hari, kualitas sumber daya manusia pun terganggu.

"Kalau kita lihat malam hari dari atas Indonesia, banyak wilayah-wilayah yang masih gelap. Artinya masih banyak anak-anak kita kalau malam hari mau belajar nggak ada lampunya. Kalau sudah seperti itu, kalau anaknya malas, malam nggak belajar, jadi nggak pintar. Ini yang pemerintah tidak mau," kata Jokowi, dalam sambutannya saat groundbreaking PLTU Lontar Unit IV, Banten, Jumat (10/6/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyontohkan, di provinsi Banten yang masih bertetangga dengan DKI Jakarta saja masih ada desa yang belum terlistriki. Jokowi meminta Menteri ESDM, Sudirman Said, agar melistriki desa-desa yang masih gelap gulita agar kualitas hidup penduduknya meningkat.

"Sekarang di Banten, apakah masih ada desa yang belum terlistriki? Masih, di Banten bagian selatan. Tadi saya langsung perintahkan Menteri ESDM, tahun ini harus masuk listrik ke desa-desa yang belum terlistriki," tegasnya.

Tanpa listrik, usaha perekonomian di pedesaan juga sulit berkembang. Jokowi berharap proyek 35.000 MW yang ditargetkan selesai pada 2019 bisa membuat seluruh Indonesia terang benderang dan mendorong peningkatan taraf hidup penduduk Indonesia.

"Di desa-desa kampung-kampung, kalau masih banyak yang padam usaha kecil, usaha mikro nggak bisa jalan. Yang bikin kerajinan malam hari nggak bisa jalan. Inilah kenapa 35.000 MW harus kita kejar," tutupnya. (wdl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads