RI Bisa Ekspor Listrik ke Malaysia 4 Tahun Lagi

RI Bisa Ekspor Listrik ke Malaysia 4 Tahun Lagi

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 16 Jun 2016 17:26 WIB
RI Bisa Ekspor Listrik ke Malaysia 4 Tahun Lagi
Foto: Istimewa/Dok Agus Trimukti/Humas PLN
Jakarta - Sejak 20 Januari 2016 lalu, Indonesia mulai mengimpor listrik dari Malaysia. Pasokan sebanyak 75 MW dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bakun di Serawak mengalir ke 6 kabupaten di Kalimantan Barat (Kalbar), yaitu Pontianak, Mempawah, Bengkayang, Singkawang, Sambas, dan Kubu Raya.

Tapi ke depan Indonesia sebaliknya juga akan mengekspor listrik ke Malaysia. Dalam kunjungannya ke Kalimantan Utara (Kaltara) hari ini, Menteri ESDM Sudirman Said meninjau persiapan pembangunan PLTA Kayan di Desa Long Peso, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan.

Kalau PLTA Kayan selesai dibangun, kata Sudirman, Indonesia bisa mengekspor listrik ke Malaysia melalui jaringan listrik bersama ASEAN (ASEAN Grid).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita tadi mendiskusikan, apabila PLTA ini dibangun dengan kapasitas yang cukup, kemudian beberapa pembangkit juga dibangun, maka kita bisa melaksanakan ASEAN Grid. Saling memasok, jadi Malaysia dan Indonesia saling mendukung," kata Sudirman saat ditemui di Bandara Juwata, Tarakan, Kamis (16/6/2016).

PLTA Kayan memiliki potensi sampai 6.080 MW, enam kali lebih besar daripada PLTA Cirata di Jawa Barat. Pembangunannya akan dilakukan secara bertahap. Pembangunan tahap pertama ditargetkan selesai 4 tahun lagi.

Dengan kapasitas yang sangat besar itu, listrik dari PLTA Kayan tak hanya cukup untuk Kaltara, tapi bisa untuk daerah-daerah lain, bisa juga diekspor ke Malaysia. "Nanti kalau memang sudah cukup, mencukupi warga dan industri di sini, kita ekspor. Selesainya minimal 4 tahun," ujar Sudirman.

Pada tahap pertama ini, kapasitas PLTA Kayan bakal mencapai 900 MW. Hambatan-hambatan seperti izin kehutanan dan izin lingkungan sudah diselesaikan.

Kalau Independent Power Producer (IPP) yang membangunnya sudah menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN, pembangkit bisa segera dibangun.

"Tahap pertama 900 MW, sudah pernah groundbreaking tapi terhambat. Sekarang hambatan seperti izin kehutanan, AMDAL, kita selesaikan, tinggal tunggu kesepakatan PPA dengan PLN," pungkasnya. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads