Konsumsi Pertamax dan Pertalite Melonjak, Ini Penyebabnya

Konsumsi Pertamax dan Pertalite Melonjak, Ini Penyebabnya

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 17 Jun 2016 08:12 WIB
Konsumsi Pertamax dan Pertalite Melonjak, Ini Penyebabnya
Foto: Grandyos Zafna
Tarakan - PT Pertamina (Persero) mengungkapkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang baru diluncurkan pada 2015 lalu mengalami kenaikan pesat pada periode Januari-Juni 2016.

Pada Januari 2016 lalu konsumsi pertalite masih 3.100 kilo liter (KL) per hari dan sekarang sudah 12.200 KL/hari atau naik 4 kali lipat dalam tempo 5 bulan terakhir.

Kenaikan konsumsi tidak hanya dialami oleh Pertalite, tapi juga Pertamax. Menurut data Pertamina, kebutuhan pertamax meningkat dari 7.000 KL/hari menjadi 13.600 KL/hari dalam 5 bulan terakhir, melonjak hampir 100%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, penyebabnya ialah selera konsumen usia muda di bawah 30 tahun alias generasi Y (generasi kelahiran pertengahan 1980-an) dan generasi Z (generasi pertengahan 1990-an) yang lebih menyukai pertalite dan pertamax ketimbang premium.

"Yang utama, ternyata komposisi pembeli sekarang sudah bergeser ke generasi Y dan generasi Z alias generasi milenia, sudah 40% pembeli. Buying power di situ. Mereka punya perhatian yang bagus terhadap program-program untuk sosial, lingkungan, itu yang mendorong," kata Bambang kepada detikFinance di Tarakan, Kamis (16/6/2016).

Konsumen usia muda ini merupakan pangsa pasar terbesar saat ini, jumlahnya sampai 40% konsumen. Ketika membeli BBM, yang dipertimbangkan bukan hanya harga tapi juga kualitas dan aspek lingkungan.

"Efisiensi itu tidak lagi dilihat dari harga per liter, tapi efisiensi total. Biaya secara keseluruhan, perawatan, per kilometer, itu yang dilihat," tuturnya.

Pergeseran konsumen ke Pertalite dan Pertamax ini membuat dominasi premium makin menurun. Pertamina menargetkan dapat menurunkan porsi premium dalam penjualan BBM nasional hingga di bawah 70% pada akhir tahun ini.

"Secara nasional komposisi Premium tinggal 73%. Akhir tahun ini targetnya di bawah 70%, tapi semoga bisa di bawah 50%," ucap Bambang.

Kalau Premium sudah tak dominan dan dianggap menyangkut hajat hidup orang banyak lagi, harganya pun tak perlu ditetapkan lagi oleh pemerintah, tapi diserahkan saja pada mekanisme pasar.

"Kalau sudah di bawah 50% berarti Premium tidak mayoritas, bukan untuk hajat hidup orang banyak. Kalau harga Pertalite berubah tiap 2 minggu, masak harga Premium tidak bisa? Harganya tidak perlu ditetapkan pemerintah lagi," pungkasnya. (ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads