Di Papua misalnya, kabupaten-kabupaten yang berada di daerah pegunungan masih sulit dicapai karena dikelilingi hutan belantara, belum ada jalan raya.
Tetapi, kebutuhan penduduk di sana harus dipenuhi, negara melalui PT Pertamina (Persero) wajib memasok BBM untuk semua warga negara. Karena itu, walau sulit dan menghabiskan banyak biaya, Pertamina tetap harus melaksanakan tugas mengirim BBM ke daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kasih gambaran, di Papua itu Pertamina keluar Rp 35 miliar per bulan. Jadi setahun Rp 400 miliar. Tapi nggak apa-apa dibanding keuntungan Pertamina," ungkap Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, kepada detikFinance di Tarakan, Kamis (16/6/2016).
Kemudian untuk penduduk di 4 kecamatan di Kalimantan Utara (Kaltara) saja, Pertamina harus menghabiskan Rp 7,98 miliar. Kecamatan Krayan di Nunukan, Kaltara, sangat terisolasi sehingga BBM hanya bisa dikirim dengan pesawat, biaya angkutnya Rp 38.000/liter.
"Kalau di Krayan 210 kilo liter (KL) kalikan dengan Rp 38.000/liter. Itu untuk 4 kecamatan," ucap Bambang.
Kondisi geografis yang sulit harus dihadapi Pertamina agar BBM bisa dinikmati hingga daerah-daerah remote. Di kabupaten-kabupaten di Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Pertamina harus melalui jalan tanah yang pasti susah dilalui ketika musim hujan.
"Di Sambas, Sanggau, Entikong, Krayan, Malinau, Sebatik, masalahnya jalan kita kirim dari Pontianak ke Sambas itu kalau hujan hancur jalannya," katanya.
Bukan hanya di Kalimantan atau Papua saja, distribusi BBM ke Pulau Karimun Jawa yang dekat dengan Pulau Jawa juga sulit. Dalam waktu dekat ini, Pertamina berencana menyewa kapal ferry khusus untuk mengangkut BBM ke Karimun Jawa.
"Di Jawa saja ada yang bermasalah, di Karimun Jawa. Harga BBM di sana mahal karena tidak ada APMS. Selama ini, mereka dapat BBM dari drum-drum dikirim dari Jepara pakai kapal kayu. Sampai sana mahal, pasti di atas Rp 10.000/liter karena ditambah ongkos angkut," dia menuturkan.
Ongkos untuk mendistribusikan BBM ke daerah-daerah terluar ini merupakan hasil subsidi silang, diambil dari sebagian keuntungan penjualan BBM Pertamina di daerah-daerah lain.
Meski membebani Pertamina, ini harus dilakukan demi tegaknya kedaulatan Indonesia di wilayah perbatasan.
"Berapa pun biayanya kita tanggung, kami untung untuk berbagi ke daerah lainnya, subsidi silang," pungkas Bambang. (drk/drk)











































