Sebelumnya dari total 70.000 MW pembangkit listrik yang akan dibangun hingga 10 tahun ke depan, 42.000 MW di antaranya adalah PLTU. Dalam RUPTL baru, porsi pembangkit baru bara dikurangi 8.000 MW menjadi 34.000 MW.
Selama ini PLTU menjadi andalan di Indonesia karena harga listrik yang dihasilkannya paling murah, hanya sekitar Rp 800/kWh. Sementara rata-rata biaya pokok produksi (BPP) listrik PLN adalah Rp 1.352/kWh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(BPP naik) Nggak juga, BPP tetap kita usahakan turun. Kan porsi BBM juga turun, kita efisiensi di situ. Kebijakan Energi Nasional (KEN) seperti itu, kita ikuti," kata Direktur Perencanaan PLN, Nicke Widyawati, kepada detikFinance, Rabu (22/6/2016).
Selain itu, PLTU-PLTU baru juga makin efisien karena menggunakan teknologi super ultra critical. Dengan begitu, kenaikan biaya yang timbul akibat berkurangnya porsi PLTU dapat tertutupi oleh semakin efisiennya PLTU berteknologi tinggi.
"Pembangkit batu bara sekarang juga kebanyakan sudah ultra super critical, efisiensinya tinggi. Pemeliharaan pembangkit juga kita tingkatkan agar lebih efisien," pungkasnya.
Sebagai informasi, dalam RUPTL 2016-2025 dirancang bahwa separuh dari pembangkit listrik di seluruh Indonesia pada 2025 menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Sisanya, sebanyak 24% adalah pembangkit listrik yang menggunakan gas, 25% pembangkit menggunakan energi baru terbarukan (EBT), dan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) akan terus dikurangi hingga tinggal 1% dalam 1 dekade ke depan. (feb/feb)