Dari produksi 943.000 bph di 2030 tersebut, 337.000 bph akan berasal dari sumur-sumur minyak di luar negeri. Pencarian minyak di luar negeri ini wajib dilakukan Pertamina karena cadangan di dalam negeri sudah semakin sedikit.
"Kita sampai 2030, Pertamina paling banyak bisa berkontribusi 943.000 bph, dari dalam dan luar negeri. Dari luar negeri di 2030 sampai 337.000 bph," kata Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam, dalam diskusi di Hotel Mandarin, Jakarta, Rabu (22/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sekarang sudah ada di Algeria, Irak, Malaysia. Buat Indonesia nggak ada pilihan selain nyari sumber di luar. Blok migas yang kita evaluasi di Rusia, di Afrika Barat ada beberapa negara, kemudian di Asia Barat, Iran juga kita mulai lakukan pembicaraan. Pekan depan MoU di Iran. Cukup banyak blok," Alam menjelaskan.
Dia mengungkapkan, blok-blok yang diincar Pertamina di luar negeri adalah yang cadangannya minimal 50 juta barel, produksinya di atas 35.000 bph. Di Iran misalnya, 2 blok yang dibidik Pertamina punya cadangan sampai 4 miliar barel.
"Kita ingin cari aset di atas 35.000 bph per blok. Cadangan di atas 50 juta barel. Kalau di Timteng cadangan mereka masih milyaran barel. Di Iran kalau kita bisa deal, itu luar biasa. 2 aset di sana saja cadangannya hampir 4 miliar barel," ungkapnya.
Blok-blok di luar negeri akan diperoleh dengan cara mengakuisisi aset atau membeli saham perusahaan migas yang memiliki aset. Total biaya investasi yang harus dikeluarkan Pertamina untuk mencaplok blok migas di mancanegara hingga 2030 mencapai puluhan atau ratusan miliar dolar.
"Kalau kita bicara sampai 2030, itu puluhan miliar dolar. Mungkin di atas 100 miliar dolar. Tapi bertahap, cita-cita kita mempertahankan ketahanan energi Indonesia," tandas Alam. (feb/feb)











































