Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam, mengungkapkan bahwa kenyataan ini menunjukkan daya tahan Pertamina. Sekalipun harga minyak anjlok sampai kisaran US$ 20/barel, Pertamina masih dapat bertahan.
"Sampai harga berapa kita masih bisa hidup? Kalau sekarang US$ 20/barel, kita masih bisa hidup," kata Alam dalam diskusi di Hotel Mandarin, Jakarta, Rabu (22/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2016 ini sampai April rata-rata biaya produksi hanya US$ 15,6/barel," Alam menjelaskan.
Terus menurunnya biaya produksi minyak Pertamina ini, sambungnya, merupakan hasil dari upaya-upaya efisiensi. Tapi efisiensi tidak sampai mengurangi produksi karena yang dilakukan adalah membuat program yang efektif, tepat sasaran.
"Yang kita lakukan bukan hanya efisiensi, kita kombinasi efektif dan efisien. Efektif adalah melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Misalnya produksi, kita melakukan dengan cara yang benar, jangan over budget, waktunya jangan terlambat, dan sebagainya. Jadi memilih program yang pas kita lakukan," ujarnya.
Berkat efisiensi dan pelaksanaan program yang efektif ini, biaya produksi Pertamina dapat ditekan rendah tapi produksi terus merangkak naik. Sementara mayoritas perusahaan-perusahaan migas di dunia mengalami penurunan pendapatan secara besar-besaran, pendapatan bersih Pertamina pada 2015 masih tumbuh 1,4%, salah satunya ditunjang oleh kinerja di bisnis hulu. (feb/feb)











































