Seperti halnya premium yang akan digantikan oleh pertalite (RON 90) dan pertamax (RON 92) di 2019, solar bersubsidi akan dialihkan secara bertahap ke dexlite.
Dexlite, solar jenis baru yang diluncurkan Pertamina pada April 2016 lalu, kini telah tersedia di 180 SPBU. Di SPBU yang menjual dexlite, rata-rata penjualan solar subsidi berkurang 15%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsumsi dexlite rata-rata sehari 4 kilo liter (KL) di setiap SPBU, totalnya sekitar 720 KL per hari.
"Konsumsinya sekarang rata-rata sehari per SPBU 4 KL, kalau dikalikan 180 jadi 720 KL," ucap Bambang.
Dexlite didorong untuk menggantikan solar subsidi karena harganya tak ditetapkan pemerintah, bisa mengikuti pasar. Pertamina kerap 'nombok' akibat subsidi BBM tak bisa menutup selisih antara harga pasar dengan harga yang ditetapkan pemerintah.
"Kalau jual solar rugi nggak ada janji diganti di APBN. Nggak ada fleksibilitas," tukas dia.
Namun, sampai saat ini, Pertamina masih kesulitan mendorong masyarakat, transportasi umum, dan sebagainya untuk beralih dari solar subsidi ke dexlite. Sebab, disparitas harga dexlite dan solar subsidi masih cukup jauh.
Sebenarnya dexlite bisa saja di jual di bawah Rp 6.000/liter. Namun, campuran biodiesel (FAME) untuk dexlite lebih mahal dibanding untuk solar subsidi.
"Saya bisa jual dexlite di bawah Rp 6.000/liter kalau ada toleransi harga FAME. Tapi prosesnya panjang. Kalau harganya rendah pasti konsumsinya bisa meningkat banyak seperti pertalite," paparnya.
Hingga akhir tahun ini, dexlite ditargetkan bisa menggantikan 10% solar subsidi yang kebutuhannya mencapai 15 juta KL per tahun.
"Sampai akhir tahun 10% (solar subsidi) atau 1,5 juta KL bisa gantikan solar subsidi," tutupnya. (drk/drk)











































