Impor LPG Makin Besar, Pertamina: Harus Dicari Alternatifnya

Impor LPG Makin Besar, Pertamina: Harus Dicari Alternatifnya

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 24 Jun 2016 10:57 WIB
Impor LPG Makin Besar, Pertamina: Harus Dicari Alternatifnya
Foto: rengga sancaya
Bandung - Konsumsi Liquid Petroleum Gas (LPG) untuk rumah tangga terus melonjak sejak program konversi minyak tanah ke LPG 8 tahun lalu. Kini, program konversi LPG yang bertujuan, menekan konsumsi minyak tanah tersebut menimbulkan masalah baru.

Ketersediaan gas jenis C1 dan C2 yang merupakan bahan baku LPG makin menipis di Indonesia. Cadangan gas C1 dan C2 yang tersimpan di Lapangan Arjuna misalnya, sudah nyaris habis. Produksi dari Bontang juga terus menurun tajam.

Akibatnya, impor LPG terus melonjak, sekarang 65% pasokan bergantung pada impor. Impor ini akan segera meroket hingga 80% bila tidak ada energi alternatif untuk menggantikannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Problem utama LPG yang kami takut untuk jangka panjang. Program konversi ke LPG jalan terus dan konsumsi naik terus. Komposisi (LPG) dari dalam negeri nggak bisa naik, bahkan turun. Sebanyak 65% sekarang impor, nanti bisa meledak sampai 80% impor kalau tidak ada kebijakan energi baru," kata Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, saat ditemui di Terminal BBM Ujung Berung, Bandung, Jumat (24/6/2016).

Energi alternatif yang dijajaki untuk menekan konsumsi LPG, yaitu gas bumi yang disalurkan melalui jaringan ke rumah tangga (jargas), diyakini Bambang tak akan efektif karena tak semua daerah punya sumber gas bumi untuk disalurkan.

"Apa penggantinya (LPG)? Banyak alternatifnya namun belum ada yang secara ekonomi bisa diterima," ucapnya.

Alternatif lainnya adalah batu bara atau palet (biomassa). Namun, banyak masyarakat yang tak mau menggunakan kompor batu bara dan kompor palet, harganya juga masih mahal.

"Bagaimana cari energi alternatif, saat ini banyak kayak brown coal, tapi masih mahal dengan regasifikasi batu bara. Atau mau nggak masyarakat pindah ke palet? Itu juga PR, kita masih gengsi-gengsian," pungkasnya. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads