Menteri ESDM, Sudirman Said, mengungkapkan sebagian besar pembangkit listrik yang mangkrak adalah bagian dari Fast Tracking Project (FTP) I. Ini merupakan akibat banting-bantingan harga saat lelang proyek. FTP I ini dijalankan pada masa pemerintahan sebelumnya.
Dampaknya, kontraktor yang memenangkan tender akhirnya kehabisan duit di tengah jalan, pembangunan pembangkit listrik pun tak bisa diselesaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ada juga di antara 34 pembangkit tersebut yang mangkrak karena kesalahan manajemen proyek, kesalahan prosedur pembelian barang, mesin-mesin pembangkit yang dipasang ternyata kualitasnya buruk, dan sebagainya.
"Belum tentu kelalaian kontraktor, bisa supervisi, project management, atau harga yang tidak realistis, jadi macam-macam penyebabnya. Tentu juga ada prosedur pembelian dan masalah teknologi yang tidak bisa diandalkan," Sudirman menambahkan.
Apakah pembangunan 34 pembangkit listrik tersebut akan dilanjutkan atau tidak bergantung dari hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Sudirman sendiri mengaku ingin proyek-proyek tersebut dilanjutkan agar uang triliunan rupiah yang sudah dikeluarkan negara ada manfaatnya untuk rakyat.
"Presiden memberikan arahan, BPKP diminta lakukan review. Kemudian nanti disampaikan hasilnya dan nanti diputuskan apakah akan dilanjutkan atau tidak. Tapi saya berharap mudah-mudahan sebagian besar bisa lanjut meskipun perlu biaya tambahan. Pilihannya kan lebih baik menambah tapi bermanfaat daripada nganggur," tutupnya.
Sebagai informasi, pada Rabu (22/6/2016) lalu Jokowi mengumpulkan jajaran menteri untuk membahas perihal kelistrikan di dalam negeri dari hasil kunjungan ke daerah beberapa waktu lalu. Sebab, proyek pembangkit listrik pada 34 lokasi ternyata mangkrak.
"Saya sudah melihat sendiri. Banyak sekali proyek pembangkit yang berhenti, proyek pembangkit listrik yang mangkrak, dan kemarin saya sudah perintahkan untuk dihitung. Kira-kira ada 30-34 lokasi," ujarnya.
"Ini sekali lagi uang yang sangat besar sekali. Uang yang sangat banyak sekali. Triliunan (rupiah). Ini juga agar segera diselesaikan," tegas Jokowi.
Jokowi mencontohkan, seperti proyek di Kalimantan Barat yang mangkrak selama 8 tahun dengan menghabiskan anggaran Rp 1,5 triliun. Kemudian Gorontalo, dalam 8 tahun, pembangkit berkapasitas 2-25 megawatt (MW) baru selesai 47%. (wdl/wdl)











































