"Subsidi solarnya kan turun Rp 500/liter, sampai sejauh ini kita lihat itu masih memadai untuk kita melakukan distribusi solar. Kita pada prinsipnya sangat setuju kalau subsidi solar secara bertahap harus dikurangi, bahkan secara bertahap dihilangkan," kata VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, saat ditemui di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (28/6/2016).
Wianda menjelaskan, harga solar subsidi bisa ditahan di Rp 5.150/liter sampai akhir tahun ini karena kenaikan harga minyak masih terbatas, subsidi Rp 500/liter masih cukup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, Pertamina mendukung penuh kebijakan pemerintah memangkas subsidi dan mengalihkannya untuk hal-hal yang lebih produktif, misalnya pembangunan infrastruktur.
"Kita sangat mendukung kebijakan pemerintah yang mengalihkan subsidi dari sektor konsumtif ke sektor produktif," tandas Wianda.
Tetapi dia memberikan catatan, harga solar subsidi mungkin saja harus naik apabila ada lonjakan luar biasa terhadap harga minyak yang tidak dapat diperkirakan. Kalau itu terjadi, Pertamina dan pemerintah akan berdiskusi dulu guna menentukan langkah selanjutnya.
"Harga tentu akan sangat bergantung sekali kepada fluktuasi yang terjadi. Fluktuasinya ke depan seperti apa bisa kita bicarakan bersama, kita jajaki," tutupnya. (hns/hns)











































