Dalam keterangannya, Rabu (29/6/2016), PLN menyatakan, kenaikan ini karena kenaikan pendapatan dan efisiensi yang dilakukan oleh PLN sepanjang tahun lalu.
Adapun pendapatan penjualan listrik PLN di 2015 naik 12,44% menjadi Rp 209,8 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 186,6 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peningkatan konsumsi kWh ini sejalan dengan kenaikan jumlah pelanggan yang dilayani perusahaan sampai dengan akhir Desember 2015 yang telah mencapai 61,2 juta pelanggan, atau bertambah 3,7 juta pelanggan (6,39%) dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 57,5 juta pelanggan.
Bertambahnya jumlah pelanggan ini juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional, yaitu dari 84,35% pada Desember 2014 menjadi 88,3% pada Desember 2015.
Perusahaan dapat melakukan efisiensi dan penghematan sehingga subsidi listrik pada 2015 turun sebesar Rp 42,8 triliun, menjadi sebesar Rp 56,6 triliun dibandingkan 2014 sebesar Rp 99,3 triliun. Meskipun volume penjualan meningkat, namun beban usaha perusahaan turun sebesar Rp 19 triliun, atau 7,16% menjadi Rp 246,3 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 265,3 triliun.
Penurunan ini terjadi karena program efisiensi yang terus dilakukan perusahaan, antara lain melalui pengoperasian dan tatakelola pembangkit yang lebih baik, substitusi penggunaan bahan bakar minyak/BBM dengan penggunaan batu bara/energi primer lain yang lebih murah, serta pengendalian biaya lainnya.
Efisiensi terbesar terlihat dari berkurangnya biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) Rp 36,4 triliun sehingga pada 2015 menjadi Rp 35 trilliun atau 49,02% dari tahun sebelumnya Rp 71,5 trilliun, terutama dikarenakan penurunan konsumsi BBM 2 juta kilo liter.
Untuk mengurangi beban operasi akibat mata uang rupiah terdepresiasi terhadap mata uang asing terutama dolar AS,PLN mulai April 2015 telah melakukan transaksi lindung nilai (hedging) atas sebagian kewajiban dan utang usaha dalam valuta asing yang akan jatuh tempo.
EBITDA tahun 2015 sebesar Rp 51,5 triliun, naik Rp 2,8 triliun dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar Rp 48,7 triliun. Hal ini menunjukkan peningkatan kinerja PLN dalam melakukan efisiensi dan perbaikan kapasitas pembangkit.
PLN telah menerbitkan laporan keuangan Tahun 2015 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan Firma anggota jaringan global PwC di Indonesia. (wdl/wdl)











































