"Proyek Tangguh Train 3 ini sudah disiapkan sejak lama. Semula direncanakan investasinya sebesar US$ 12 miliar. Namun setelah melalui proses tender dan lelang, nilai finalnya turun menjadi US$ 8 miliar saat ini," ujar Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (1/7/2016).
Amin mengatakan, penurunan ini disebabkan oleh penurunan biaya konstruksi yang diajukan Kontraktor Pelaksana Pembangunan atau Kontraktor EPC dalam tender yang dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun pekerjaan konstruksi fasilitas kilang tersebut dibagi menjadi 4 pekerjaan besar. Pertama adalah pekerjaan konstruksi di darat alias onshore.
"Untuk paket EPC onshore LNG, kontraktor yang ditujuk sebagai pemenang adalah konsorsium CSTS, pemimpinnya adalah PT Tripatra Engineers And Constructors dengan nilai kontrak US$ 2,43 miliar (Rp 31,59 triliun)," sebut dia.
Untuk paket pekerjaan kedua, kata Amien, adalah pekerjaan konstruksi di lepas pantai alias offshore. Ia menyebut, untuk pekerjaan Offshore EPC, kontraktor yang ditunjuk untuk melaksanakan adalah PT Saipem Indonesia, dengan nilai kontrak US$ 448 juta atau Rp 6,344 triliun (Rp 13.000/US$).
Kemudian untuk pekerjaan Line Pipe atau pipa penghubung, kontraktor yang ditunjuk adalah PT Agcia Pertiwi, dengan nilai kontrak setara US$ 60 juta atau Rp 780 miliar.
Pekerjaan terakhir adalah pengadaan mesin-mesin. "Untuk pekerjaan Turbomachinery (pengadaan permesinan), kontraktor yang kita pakai adalah General Electric (GE) dan Nouvo Pignone. Jadi ada yang dari Amerika (GE) dan Italia (Nouvo Pignone)," pungkasnya.
Proyek kilang LNG Tangguh Train 3 akan segera dibangun, yang ditandai dengan diserahkannya empat dokumen persetujuan dari SKK Migas kepada BP Berau selaku Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) alias Operator Train 3 Tangguh.
Dengan penyerahan dokumen tersebut maka BP Berau selaku KKKS bisa segera memulai proses pembangunan fasilitas kilang ini. (dna/wdl)











































