Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, mengungkapkan ada beberapa tantangan baru yang harus diantisipasi Pertamina dalam lebaran tahun ini.
Jika pada mudik lebaran tahun-tahun sebelumnya lonjakan kebutuhan yang tinggi hanya terjadi pada BBM jenis premium dan solar bersubsidi, tahun ini konsumsi pertamax dan pertalite juga bakal meningkat pesat, bisa sampai 100% saat puncak arus mudik. Maka selain stok premium dan solar, Pertamina juga harus menyiapkan banyak stok pertalite dan pertamax.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu tahun ini ada jalan-jalan tol baru yang akan sangat padat saat musim mudik, misalnya tol Pejagan-Pemalang. Tol-tol baru ini belum memiliki Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang cukup, atau bahkan belum punya SPBU.
Untuk sementara, Pertamina akan memasang spanduk peringatan kepada para pemudik agar mengisi penuh dulu bensin mobilnya di SPBU terdekat sebelum masuk tol.
"Ada perubahan arus mudik, ada tambahan jalan tol. Kalau jalan tol itu belum ada atau kekurangan SPBU, kita buat spanduk sebelum masuk tol tolong isi bensin dulu sampai penuh di SPBU terdekat. Tahun lalu kita lakukan di Cipali," ucapnya.
Selain itu, Pertamina juga menyiapkan bensin pertamax dalam kemasan kaleng yang bisa dibawa oleh mobil-mobil untuk berjaga-jaga supaya tak mogok karena kehabisan bensin di tengah jalan. "Jujur saja, ketika jalan tolnya macet, walaupun ada SPBU mobil juga nggak bisa masuk. Dibuka tutup oleh polisi. Jadi kita sediakan BBM kalengan," ujar Bambang.
Untuk mengantisipasi SPBU kehabisan pasokan BBM, Pertamina menyiapkan 'SPBU kantong', yaitu truk-truk tangki BBM, di dekat SPBU-SPBU yang berlokasi di jalur mudik. Truk tangki BBM ini akan memasok ke SPBU jika pasokan dari Terminal dan depo BBM terhambat akibat kemacetan saat puncak arus mudik.
"Kita perkirakan hari ini puncaknya arus mudik karena besok sudah libur. Nanti malam puncaknya. Bagaimana mengatasinya? Kita membuat SPBU kantong, beberapa tangki sudah kita isi dan kita tempatkan di dekat SPBU. Ini untuk jaga-jaga kalau macet total sampai kita nggak bisa ngirim dari depo," paparnya.
Kerja sama dengan kepolisian juga dilakukan untuk melakukan contra flow, yaitu mengirim BBM dari jalur sebaliknya saat jalur distribusi yang biasa dilalui terlalu padat. "Kita kerja sama dengan polisi untuk contra flow. Saya rasa action-action itu bisa mengatasi semuanya," pungkasnya.
Terminal BBM Tanjung Gerem
Terminal BBM Tanjung Gerem mulai hari ini dimodernisasi dengan sistem kontrol otomasi yang terpadu untuk kegiatan penerimaan, penimbunan, sampai penyaluran BBM. Sistem tersebut ialah New Gantry System (NGS).
NGS sebelumnya telah diterapkan di Terminal BBM Plumpang (Jakarta)dan TBBM Ujung Berung (Bandung). NGS juga akan segera dipakai di TBBM Balongan (Indramayu).
Dengan menggunakan sistem baru ini, meteran untuk pengisian BBM ke truk-truk tangki di TBBM Tanjung Gerem menjadi jauh lebih akurat. Dengan begitu, losses (susut) BBM yang sampai ke SPBU juga menjadi lebih kecil.
"Bagaimana kita bisa melayani konsumen dengan baik, mendorong pengusaha SPBU tidak main kalau suplai ke sana nggak bagus? Jadi kita benahi itu dulu," kata Bambang.
Losses BBM yang diangkut truk tangki dari terminal bisa ditekan hingga kurang dari 0,1%. "Losses kami juga berkurang jauh. Bisa jauh di bawah 0,1%, kita kan toleransinya sampai 0,3%," tuturnya.
Bensin yang diterima konsumen diharapkan juga menjadi lebih pas jumlahnya karena bensin yang sampai ke SPBU juga lebih akurat. Dampak bagi konsumen dengan adanya NGS, losses berkurang, mereka nggak mengalami kerugian besar. Keakuratan meteran jadi lebih bagus dibanding manual," tutupnya. (hns/hns)











































