Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, mengungkapkan bahwa penurunan subsidi ini membuat Pertamina rugi sekitar Rp 100/liter karena harga solar bersubsidi tak naik, tetap Rp 5.150/liter sampai akhir tahun.
Meski demikian, kerugian Pertamina tersebut masih bisa ditutup oleh surplus subsidi yang diperoleh Pertamina dari penjualan Solar sejak awal tahun ini sampai bulan Juni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Subsidi sebesar Rp 500/liter, sambungnya, tidak akan membuat Pertamina sampai rugi kalau harga minyak dunia masih di bawah US$ 45/barel dan kurs dolar Rp 13.250. Tapi harga minyak mentah sekarang sudah di kisaran US$ 50/barel.
"Rata-rata harga minyaknya nggak boleh lebih dari US$ 45/barel dengan kurs Rp 13.250. Kalau di atas US$ 45/barel kita rugi. Tapi rugi itu ketutup dengan untung kemarin," tukasnya.
Untuk menekan kerugian dari penjualan solar subsidi ini, Pertamina akan mendorong konsumen beralih ke dexlite.
"Sekarang antisipasinya, dexlite kita genjot supaya kerugiannya berkurang. PR (pekerjaan rumah) saya adalah meningkatkan penjualan dexlite," tutup Bambang. (hns/hns)











































