Angkatan pertama PETA berisi 80 orang yang dikirim tahun lalu, saat ini telah kembali. Membawa banyak cerita dan tentunya laporan kepada Menteri ESDM Sudirman Said tentang kendala penyediaan listrik di masing-masing lokasi yang telah mereka datangi.
Salah satunya adalah Geri Agroli, 23 tahun, yang ditemui detikFinance saat pelepasan 120 anggota PETA angkatan kedua yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Sabtu (16/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang telah disediakan Pemerintah di lokasi tersebut telah cukup membantu masyarakat dari keadaan gelap gulita tanpa listrik. Namun, jangan bayangkan listrik melimpah seperti di Jakarta yang bisa dipakai sesukanya.
"Di sana, listrik itu hanya menyala 4 jam saja," cerita Geri.
Anggota PETA lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini bercerita bahwa untuk mendapatkan listrik tersebut, masyarakat desa harus membayar Rp 7.000 per hari atau Rp 210.000 rata-rata setiap bulannya.
"Kalau di Jakarta, kita bayar Rp 200.000 sudah bisa dapat listrik 24 jam selama sebulan," sambung dia.
Geri sendiri tinggal di salah satu rumah warga. Dengan listrik yang waktu menyalanya masih terbatas, ia sampai harus menunggu matahari tiba untuk mengisi daya telpon selular (ponsel) miliknya. Maklum, PLTS sangat bergantung pada keberadaan matahari agar bisa beroperasi.
Enam bulan berada di lokasi tersebut, membuatnya sadar betapa pentingnya keberadaan listrik bagi kehidupan sehari-hari.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat di desa tersebut juga masih jauh dari jangkauan informasi yang di ibu kota bisa mudah di dapat dari televisi, atau ponsel pintar di genggaman. Alasannya apa lagi kalau bukan listrik yang masih terbatas.
Ia membandingkan dengan warga ibu kota sudah bisa menikmati listrik sepanjang hari penuh.
"Ketika saya pulang ke Jakarta, saya jadi sedih sekali membayangkan kondisi masyarakat di sana (Mentawai). Kita di sini sering menyalakan televisi, ditinggal tapi tidak dimatikan. Di sana, mungkin mereka hanya cukup untuk menyalakan tiga bohlam lampu saja saat malam," kata dia.
Lantaran masih minimnya ketersediaan listrik di kawasan tersebut, tak ada satupun menara BTS (Base Transceiver Station) di lokasi tersebut untuk melayani sambungan telpon selular (ponsel).
Sinyal ponsel pun menjadi minim. "Nggak ada BTS karena nggak ada listrik. BTS terdekat di Kendari, makanya sinyal hape di sana (Mentawai) juga susah," tuturnya.
Hasil laporannya ini akan menjadi informasi berharga bagi Kementerian ESDM dalam menyelenggarakan program pembangunan di lokasi-lokasi seperi Desa Labotaone, Mentawai Selatan yang masih jauh dari ketersediaan listrik yang cukup.
Tahun ini, Kementerian ESDM kembali mengirim anggota PETA angkatan kedua yang berisi 120 orang anak muda sukarelawan ke 105 desa terpencil dan terluar di seluruh Indonesia. (dna/hns)











































