Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja mengatakan, meski tidak besar, tapi Blok Migas East Natuna dapat memberikan tambahan pada produksi minyak di Indonesia secara nasional.
"Kalau minyak, produksi (Blok Migas East Natuna) antara 7-15 ribu barel per hari (bph)," kata dia ditemui di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (19/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini dikarenakan, menurut penelitian awal, Gas Bumi di kawasan ini, mengandung gas CO2 hingga 72%. Sehingga perlu dipisahkan agar tidak membahayakan lingkungan sekitar.
Sampai saat ini masih dicari teknologi untuk pemisahan CO2 yang sangat tinggi itu dan menginjeksinya lagi supaya tidak mencemari udara. Belum pernah ada perusahaan yang pernah memisahkan kandungan CO2 sebesar itu.
"Tadinya kan mau dikelola bareng-bareng antara minyak sama gas, tapi gas butuh waktu lama. Biar bisa cepat, minyak kita dahulukan," tutur dia.
Percepatan kegiatan produksi di Blok Migas East Natuna memang menjadi arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menegaskan kedaulatan Indonesia di wilayah Natuna.
Perairan Natuna diklaim oleh China sebagai wilayah penangkapan tradisional nelayan mereka. Dengan argumen ini, China membela nelayan-nelayannya yang mencuri ikan dan melanggar kedaulatan Indonesia. (dna/ang)











































