Dari FTP I yang berlangsung sejak 2005 saja, masih ada 34 pembangkit dengan total kapasitas hingga 2.500 megawatt (MW) yang tak diselesaikan oleh kontraktornya.
Akibatnya, banyak daerah yang kekurangan pasokan listrik. Sebanyak 34 pembangkit yang mangkrak ini, tersebar di seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangkit-pembangkit tersebut mangkrak karena kontraktor yang ditunjuk PLN ternyata kapabilitasnya buruk sekali alias abal-abal. Kalau pun pembangkit selesai dibangun, kualitasnya jelek.
"Nggak ada yang jadi (pembangkit listrik) sampai sekarang. Nggak tahu kenapa. Kalau pun jadi performance-nya jelek. Secara teknologi kalau pun yang jadi banyak batuk-batuknya," ucapnya.
Dia menjelaskan, 34 pembangkit yang mangkrak ini umumnya adalah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berskala kecil. "Ada yang 2 x 3 MW. Ada yang 2 x 7 MW di daerah yang jauh-jauh itu," tutur Nicke.
Saat ini, 34 proyek pembangkit yang mangkrak tersebut masih diaudit oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Berdasarkan hasil audit, nantinya PLN akan memutuskan, mana saja yang dilanjutkan dan tidak dilanjutkan, serta biaya yang dibutuhkan untuk melanjutkannya.
"Masih diaudit BPKP, kita hitung-hitung dulu," tutupnya. (wdl/wdl)











































