Pasokan gas dari CPP Gundih yang berjumlah kurang lebih sebesar 50 MMSCFD pun selama 12 tahun akan dialirkan untuk PLTGU Tambak Lorok, Semarang.
"Dengan penyaluran gas ke PLTGU Tambak Lorok berdampak pada potensi efisiensi energi sekitar Rp. 21,4 triliun. Selain itu Konversi bahan bakar HSD ke gas juga dapat mereduksi CO2 sebesar 800 ton per hari", ujar Presiden Direktur Pertamina EP Rony Gunawan di CPP Gundih, Blora, Jawa Tengah, Jumat (22/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, memberikan dampak bagi daerah penghasil yaitu bertambahnya Dana Perimbangan Bagi Hasil Migas serta terciptanya multiplier effect atas aktifitas operasi migas di daerah tersebut.
"Ini gasnya kan dialirkan ke PLN Tambak Lorok, Semarang sebesar 50 juta kaki kubik per hari dan sebagian ke PGN di Jargas Kota sehingga bisa kita lihat kerja sama Pertamina dan PGN sudah berjalan juga di lapangan sehingga ini mengindikasikan konsolidasi itu adalah sesuatu yang wajar di lapangan," katanya di lokasi yang sama.
Ia pun menambahkan, meski situasi harga minyak saat ini sedang tidak baik, target produksi Pertamina terus meningkat setiap tahunnya. Bila dibandingkan antara tahun 2014 kisaran harga minyak mentah dunia di angka USD 100 per barel, dengan tahun 2015 di kisaran USD 40 per barel. Maka realisasi Dana Bagi Hasil minyak dan Gas bagi daerah penghasil tentu akan terpengaruh juga.
"Produksi kita targetkan di 2016 ini naik 12 persen dibandingkan 2015. Totalnya 640 ribu barrel equivalent per hari. Ini naik dari 595 tahun lalu. Jadi kita terus naik meskipun dalam situasi harga minyak yang sekarang dan cadangan-cadangan yang mengalami penurunan, tetap kita kerja keras bagaimana ini bisa terus meningkat," pungkasnya. (hns/hns)











































