Lelang PLTGU Jawa I akan diikuti oleh berbagai perusahaan raksasa seperti PT Adaro Energy Tbk, PT Pembangkitan Jawa Bali, PT Bukaka Teknik Utama, hingga PT Pertamina (Persero).
Adaro yang dalam lelang PLTGU Jawa I ini membentuk konsorsium bersama Sembcorp adalah salah satu bidder yang meminta pengunduran waktu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sebetulnya sudah siap untuk submit sesuai dengan tanggal yang ditetapkan semula. Namun dengan adanya revisi RFP (Request For Proposal), maka kami merasa akan dapat memberikan penawaran yang lebih baik jika kami mendapatkan tambahan waktu," kata Deputy Direktur Utama PT Adaro Power, Dharma Djojonegoro, melalui pesan singkat kepada detikFinance, Sabtu (23/7/2016).
Sementara itu, Pertamina yang dalam lelang ini menggandeng Marubeni, Total, dan GE mengaku sudah siap dengan penawaran terbaik, tak perlu pengunduran waktu.
"Kami bukan termasuk yang minta waktu diundur. Kami telah memasukkan dokumen kontrak sesuai tata waktu yang ditetapkan PLN," kata VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, kepada detikFinance.
Direktur Perencanaan PLN, Nicke Widyawati, mengatakan bahwa pihaknya tak bisa menunggu lama karena PLTGU Jawa I harus segera selesai di 2019.
"Kami dorong cepat, tapi sebagian besar peserta tender minta mundur. Kami nggak bisa menunggu lama juga karena 2019 sudah harus selesai," katanya.
PLTGU Jawa I rencananya dibangun di Muara Tawar, Kabupaten Bekasi. Pembangunannya diprediksi menghabiskan waktu 3-4 tahun, ditargetkan selesai 2019.
Kebutuhan gas untuk PLTGU Jawa I kurang lebih 250 MMSCFD, rencananya pasokan gas akan diperoleh dari kilang Tangguh.
Pembangkit listrik ini merupakan salah satu bagian dari program 35.000 MW. Diperkirakan pembangunan PLTGU Jawa I membutuhkan biaya investasi sebesar US$ 2 miliar atau Rp 26 triliun (dengan asumsi kurs dolar Rp 13.000). (ang/ang)











































