Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, mengatakan dari total 35.000 MW sebagian besar akan dikerjakan sewasta atau Independen Power Producer (IPP), sebanyak 25.000 MW. Sementara 10.000 MW sisanya oleh PLN.
"Sudah berjalan. Persiapan tender dan pra kualifikasi tender cukup lama karena kesiapan dari IPP untuk menjajaki proyek tersebut," kata Sofyan, ditemui di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (25/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini sebenarnya masih sangat wajar, kalau kita lihat beberapa waktu lalu. Kalau kita lihat lambat atau tidak lambat mari bandingkan. Kalau kita bicara lambat, lambatnya apa, pada saat apa? Itu karena kita sudah melaksanakan hampir 20.000 MW penandatanganan PPA (Power Purchase Agreement)," katanya.
Sementara mengenai dana jaminan 10% bagi pemenang lelang pembangkit, Sofyan mengatakan, hal itu menjadi komisi dari perkembangan proyek yang dilakukan sekaligus jaminan proyek akan dikerjakan dengan baik.
Selain itu, kata Sofyan, PLN juga akan mempercepat pengadaan mesin gas untuk PLTG lebih awal dari semula. Tujuannya supaya krisis listrik bisa cepat tertangani.
"Tambahan untuk PLTG kita percepat, tarik ke awal karena posisi pembangkit kemarin ada gangguan-gangguan. Kita enggak bisa menyalahkan apapun. Kita memasukkan mesin gas yang harusnya 2018-2019. Kita tarik lebih awal untuk meng-cover jangan sampai ada drop," ujarnya. (ang/dnl)











































