Perusahaan sendiri berencana menambah kapasitas tangki-tangkinya, dari 656 ribu kilo liter (KL) menjadi 1 juta KL dalam waktu tiga hingga empat tahun mendatang. Meski begitu, berapa banyak tangki yang akan dibangun demi menunjang hal tersebut, tidak dapat disebutkan oleh perusahaan saat ini.
"Kalau Pemerintah punya policy untuk menjaga ketahanan energi ya bagus, tentu saja kami dukung. Karena selain PT Pertamina (Persero) tentu dibutuhkan cadangan tangki baru. Kami juga siap untuk menambah tangki jika diperlukan," ujar Vembu di acara Institutional Investor Day di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PT AKR Corporindo sendiri telah menyiapkan sejumlah lahan kosong, baik di Jawa maupun luar Jawa. Menurut Vembu, salah satu lokasi yang paling ideal untuk tangki baru AKR adalah lahan kosong di Gresik, Jawa Timur karena luasnya memadai.
Dengan rata-rata kapasitas 166 tangki saat ini, AKR baru cukup memenuhi kebutuhan selama 20 hingga 25 hari saja. Bila cadangan 1 juta KL terpenuhi, Perseroan berharap bisa meningkatkan daya tampung tangkinya hingga 30 hari seperti yang diamanatkan pemerintah.
Meski begitu, durasi tampung tangki BBM itu juga tergantung pertumbuhan penyaluran BBM per hari (Daily Objective Throughput/DOT) nantinya.
"Namun untuk bangun satu tangki, kira-kira dibutuhkan 12 bulan untuk membangunnya, dan biaya investasinya berbeda-beda tergantung lokasinya. Tentu kami siap untuk membangun tangki baru karena kami masih punya lahan yang banyak baik di Jawa maupun di luar Jawa," tandasnya.
"Tetap perlu kami hitung berapa throughput-nya. Kalau untuk AKR, kami prediksi throughput akan bertambah karena kami saja akan ekspansi jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sebanyak 30 unit pada tahun ini. Kendati demikian, penyaluran BBM kami hingga semester I ini turun 5 persen baik subsidi maupun non-subsidi," jelas Vembu.
PT AKR Corporindo Tbk (Persero) (AKRA) sendiri merupakan salah satu pemain utama di bidang penyedia jasa distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan bahan kimia dasar di Indonesia.
Presiden Direktur AKRA Haryanto Adikoesoemo mengatakan, sejak tahun 2005, rata-rata pertumbuhan pendapatan lebih dari 20%. Di tahun 2015, laba bersih perusahaan mencapai Rp 1,034 triliun. Sementara itu, selama semester I-2016, laba bersih Perseroan mencapai Rp 586 miliar. Marjin kotor Perseroan selama 2016 tumbuh menjadi 13,7% dibandingkan tahun 2015 sebesar 11,2%.
"Selama 6 bulan 2016, laba bersih Perseroan mencapai Rp 586 miliar, dan perkembangan marjin yang signifikan. Ini merupakan bentuk kekokohan dari model bisnis AKRA yang telah secara konsisten menunjukkan pertumbuhan profitabilitas di tengah gejolak pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah," pungkasnya. (drk/drk)











































