Ini 'Jurus' ESDM Genjot Investasi Sektor Hulu Migas RI

Ini 'Jurus' ESDM Genjot Investasi Sektor Hulu Migas RI

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Selasa, 02 Agu 2016 18:00 WIB
Ini Jurus ESDM Genjot Investasi Sektor Hulu Migas RI
Foto: Reuters
Jakarta - Pemerintah tengah meramu berbagai cara bagi usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia yang saat ini sedang lesu. Salah satu caranya yang dilakukan adalah merevisi aturan yang dianggap menghambat investasi yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79/2010 tentang Biaya Operasi yang Bisa Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Migas.

Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Wiratmaja Puja mengatakan, saat ini sudah diusulkan beberapa poin perubahan seperti penghilangan pajak dan penghapusan beberapa peraturan yang dirasa membuat investasi di sektor hulu menjadi tidak menarik.

"Supaya atraktif, sistem perpajakannya bilang lah misalnya pajak PBB dan yang lain yang mungkin membuat tidak atraktif kita usulkan untuk direvisi. Kemudian juga sistem blok basis, POD (Plan of Development) basis juga kita usulkan untuk direvisi supaya lebih atraktif untuk eksplorasi. Bagaimana dari sisi pengaturan yang mungkin terlalu berlebih ngaturnya juga kita release," katanya usai melakukan rapat di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (2/8/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, mengenai apa saja bentuk pajak dan peraturan yang akan dihapus, Wiratmaja mengatakan hal ini masih dalam pembahasan Pemerintah pun telah membentuk suatu tim adhock guna membahas ini setiap minggunya. Akhir dari pembahasan ini diharapkan tahun ini dapat selesai.

"Tadi juga sudah dibentuk tim untuk adhock untuk membahas ini terus menerus setiap minggu. Kita berharap tahun ini sudah bisa terbit," ucapnya.

"Kita berharap ada yang membuat lebih atraktif. Tetapi negara juga jangan terlalu dirugikan. Nanti kita usulkan tetap ada PPN dan PPh badan. Ada beberapa pajak daerah juga yang kita usulkan untuk dihilangkan. Nanti akan di bahas di tim," tambahnya.

Posisi Indonesia saat ini dari sisi investasi hulu migas terbilang kurang atraktif dibanding negara-negara lain. Dengan kondisi cadangan migas yang sudah menipis, dan bentuk cekungannya yang kompleks dibandingkan dengan beberapa negara lainnya seperti Afrika dan Timur Tengah.

Dari sisi Investment Rate of Return (IRR) di sektor hulu migas, Indonesia juga dirasa masih terlalu kecil dan membuat investasi asing sulit masuk ke dalam negeri. Untuk itu, diperlukan sesuatu yang menarik perhatian investor agar mau berinvestasi kembali di sektor hulu migas Indonesia.

"Kita sangat kurang atraktif. Namanya investasi, kalau IRR-nya tinggi disenengin. IRR investasi hulu, mereka ingin rata-rata IRR-nya 18-24% sehingga kita menarik investasi besar kurang atraktif. Sekarang contohnya di blok Bangka sama Jangkrik (IRR) sekitar di bawah 5%. Artinya kita sangat tidak atraktif. Memang harga juga lagi turun banget," tandasnya.

"Kalau di negara lain yang sangat atraktif itu IRR-nya 34%, di Meksiko dan Amerika. Di Afrika rata-ratanya 24%," pungkasnya. (feb/feb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads