Arahan Dirut Pertamina: Jangan Cuma Bangun Kilang, Kuasai Teknologinya

Arahan Dirut Pertamina: Jangan Cuma Bangun Kilang, Kuasai Teknologinya

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 10 Agu 2016 11:45 WIB
Arahan Dirut Pertamina: Jangan Cuma Bangun Kilang, Kuasai Teknologinya
Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Sebanyak 105 insinyur direktorat pengolahan PT Pertamina (Persero) dikirim ke Amerika Serikat (AS) dan Prancis untuk mempelajari teknologi kilang di luar negeri.

Pengiriman para insinyur ini dilakukan agar proyek pembangunan kilang-kilang di dalam negeri tidak perlu menggunakan insinyur dari luar negeri. Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, ingin putra-putra terbaik Indonesia sendiri yang mengerjakan pembangunan kilang.

"Membangun kilang jangan semata-mata membangun saja, tapi harus alih teknologi. Kalau bangun kilang hanya keluar biaya pakai konsultan-konsultan asing, kita mengoperasikan saja. Pak Dirut ingin seluruh engineer Pertamina dikerahkan," kata Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi, dalam konferensi pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (10/8/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atas dasar pertimbangan itulah Pertamina mengirimkan insinyur-insinyurnya mulai dari yang paling muda sampai paling senior.

"Engineer yang kami kirim jam terbangnya 5-20 tahun. Kesempatan mendapat exposure langsung dari engineer kelas dunia itu langka sekali. Jadi ini luar biasa bagusnya. Ini big bang wake up call. Keinginan pemerintah sangat kuat dan kami respons secara progresif," ujar Hardadi.

Membangun kilang sendiri memang sulit. Yang gampang adalah mengimpor BBM saja ketika produksi di dalam negeri tidak mencukupi. Tapi cara mudah mengandung banyak risiko. Negara jadi tidak mandiri energi, devisa negara habis untuk impor BBM, juga tidak ada nilai tambah yang tercipta di dalam negeri.

Maka meski sulit dan penuh tantangan, membangun kilang dan menguasai teknologinya harus dimulai dari sekarang.

"Kalau kita bicara kesulitan, yang ada dalam benak kita sulit, berat, capek. Tapi kalau kita pandang dengan optimistis ini kesempatan, tantangan bagaimana menunjukkan kemampuan kita. Hasil kerja nyata kita ditunggu masyarakat Indonesia," pungkas Hardadi.

Operasional Kilang Tetap Terjaga

Pengiriman 105 insinyur direktorat pengolahan Pertamina ke AS dan Prancis tentu berdampak pada operasional kilang-kilang minyak di dalam negeri. Para insinyur yang sehari-hari menjaga agar kilang beroperasi dengan baik untuk sementara waktu harus belajar di luar negeri.

Rachmad mengakui operasional kilang menjadi lebih rawan. Meski demikian, Pertamina telah menyiapkan langkah khusus agar kegiatan produksi BBM di kilang dapat terjaga dengan baik.

Pengiriman 105 insinyur ke luar negeri tidak dilakukan sekaligus secara bersamaan, tapi dibagi dalam 3 gelombang. Para insinyur yang belajar di luar negeri akan kembali dalam 2 bulan, tugas mereka selama 2 bulan itu akan dibebankan pada para insinyur yang berangkat di gelombang berikutnya.

Setelah mereka kembali, para insinyur ini akan mengemban tugas kawan-kawannya yang gantian berangkat ke luar negeri.

"Operasional kilang sebenarnya suffer. Tapi harus tetap terjaga. Tugasnya para engineer yang ke luar negeri harus dirangkap engineer lain. Pada saat mereka kembali (dari luar negeri), mereka merangkap tugas engineer yang berangkat," papar Hardadi.

Hardadi menambahkan, hal ini meski berat mau tak mau dilakukan Pertamina demi kepentingan bangsa, yaitu kemandirian energi.

"Operasional RU (Refinery Unit/kilang) tetap harus baik sementara sebagian engineer harus mengerjakan BED (Basic Engineering Design untuk kilang baru). Ini untuk kemaslahatan bersama," tandasnya.

Membangun kilang sendiri memang sulit. Yang gampang adalah mengimpor BBM saja ketika produksi di dalam negeri tidak mencukupi. Tapi cara mudah mengandung banyak risiko. Negara jadi tidak mandiri energi, devisa negara habis untuk impor BBM, juga tidak ada nilai tambah yang tercipta di dalam negeri.

Maka meski sulit dan penuh tantangan, membangun kilang dan menguasai teknologinya harus dimulai dari sekarang.

"Kalau kita bicara kesulitan, yang ada dalam benak kita sulit, berat, capek. Tapi kalau kita pandang dengan optimistis ini kesempatan, tantangan bagaimana menunjukkan kemampuan kita. Hasil kerja nyata kita ditunggu masyarakat Indonesia," tutupnya. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads