Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, mengungkapkan sumber energi panas bumi di Indonesia jumlahnya sangat melimpah.
"Cadangan panas bumi di Indonesia, setara dengan 29 giga watt (GW). Tapi saat ini pemanfaatannya hanya sekitar 1.500 mega watt (MW) atau hanya 5% saja dari potensi yang ada," kata dia, dalam pidatonya pada acara 4th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2016 yang diadakan di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (10/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satunya kami telah melakukan penyesuaian kebijakan, seperti mengganti kegiatan usaha panas bumi tidak lagi dianggap sebagai kegiatan pertambangan, sehingga pengembangannya bisa dilakukan di area hutan," kata dia.
Sebelumnya, kegiatan usaha panas bumi dianggap sebagai kegiatan usaha pertambangan. Akibatnya, sumber-sumber panas bumi yang ada di area hutan tidak bisa dimanfaatkan, karena terbentur aturan bahwa kegiatan pertambangan tidak boleh dilakukan di area hutan. Padahal, kebanyakan sumber energi panas bumi berlokasi di dalam kawasan hutan.
Dengan perubahan aturan ini, maka saat ini sumber energi panas bumi yang berlokasi di area hutan bisa dikembangkan sehingga potensinya bisa dioptimalkan.
Meski demikian, diakuinya hal tersebut belumlah cukup. Masih perlu banyak terobosan dilakukan pemerintah agar potensi yang begitu besar bisa lebih dioptimalkan lagi.
Hingga tahun 2025 sendiri, pemerintah telah mencanangkan pemanfaatan energi geothermal sebesar 7.000 MW. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan bauran energi dan meningkatkan kontribusi pemanfaatan energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional.
"Masih banyak tantangan. Dan kami di Kabinet Kerja akan berusaha keras memecahkan tantangan tersebut. Saya harapkan, dalam acara ini akan banyak diperoleh masukan yang membangun untuk mencapai target pemanfaatan geothermal 7.000 MW di 2025," tandas dia. (dna/wdl)










































