Masalah itu, kata Bambang, adalah anjloknya harga minyak dunia dan juga anjloknya harga batu bara.
"Rendahnya harga minyak dunia, secara tidak langsung mendorong orang untuk tidak terlalu banyak memanfaatkan energi baru terbarukan. Tapi malah mendorong lebih banyak menggunakan energi fosil karena harganya yang sedang murah," kata dia dalam sebuah sesi diskusi pada acara The 4th Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2016, di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (10/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh ia menambahkan, sama halnya dengan program pembangunan infrastruktur lainnya, pembangunan infrastruktur memanfaatkan sumber energi baru terbarukan juga mengalami banyak masalah klise. "Seperti sengketa lahan, izin-izin yang sulit dan rumit, dan kesulitan dalam akuisisi lahan," sambung dia.
Masalah-masalah ini tetap harus dipecahkan Pemerintah, karena listrik adalah hal yang mutlak harus disediakan Pemerintah.
Karena, bila infrastruktur untuk memanfaatkan energi terbarukan tidak segera dibangun, akan banyak risiko yang bakal dihadapi. Seperti kelangkaan energi bahkan habisnya cadangan energi dunia.
Mengingat sumber energi berbasis fosil jumlahnya semakin menipis. Hingga ancaman kerusakan lingkungan akibat polusi yang dihasilkan bahan bakar fosil. (dna/ang)











































