Penugasan ini dilakukan pada acara the 4th Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition 2016 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Centre (JCC) Senayan, hari ini. Penugasan ini juga tidak lepas dari komitmen pemerintah mencapai pemanfaatan panas bumi alias 'harta karun energi' hingga 7.000 MW di 2025.
Penyerahan SK pengusahaan WKP Mataloko dan Ulumbu dilakukan oleh Menteri ESDM kepada Direktur Utama PLN, Sofyan Basir dan disaksikan oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan pengembangan ini nantinya total kapasitas untuk PLTP Ulumbu mencapai 50 MW dan PLTP Mataloko mencapai 22,5 MW yang ditargetkan seluruhnya masuk sistem NTT pada awal tahun 2020. Saat ini PLTP Ulumbu telah beroperasi dengan kapasitas 10 MW sementara untuk PLTP Mataloko 2,5 MW, keduanya telah menyuplai sistem kelistrikan Di Ruteng dan Kabupaten Ngada, NTT," papar Sofyan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (10/8/2016).
Secara keseluruhan, PLN telah membeli listrik dari PLTP tersebar dengan total kapasitas lebih dari 1.400 MW. Jumlah tersebut akan bertambah dengan pembelian listrik dari PLTP Ulubelu 3 sebesar 55 MW yang telah masuk sistem dan Karaha Bodas sebesar 30 MW
Selain itu untuk menarik minat investor, PLN juga telah melakukan price adjustment sesuai peraturan yang berlaku guna mendorong minat para investor untuk melakukan pengembangan panas bumi di Indonesia.
Selain penyerahan SK pengusahaan WKP, dalam acara ini juga dilakukan penandatanganan amandemen kontrak jual beli listrik (ESC) PLTP Wayang Windu 1 dan 2 antara PLN dengan Star Energy. Penandatanganan Amandemen kontrak PLTP Lahendong 5 dan 6 antara PLN dengan PGE dan penandatanganan Amandemen kontrak PLTP Muaralaboh 1 dan 2 antara PLN dengan SEML.
Panas bumi merupakan harta karun energi Indonesia. Dari 29.000 MW potensi listrik panas bumi yang ada di Indonesia, yang tergarap baru 5%. (wdl/wdl)











































