PT Pertamina Gas (Pertagas), anak usaha Pertamina yang mengelola Terminal Penerimaan dan Regasifikasi Arun serta pipa gas Arun-Belawan, mengungkapkan bahwa gas yang dipasok ke Sumut berasal dari Lapangan Tangguh di Papua.
Gas dari Tangguh diolah menjadi gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dan dibawa dengan kapal ke terminal di Arun, diubah bentuknya menjadi gas lagi (regasifikasi), baru dialirkan melalui pipa Arun-Belawan. Pertagas membeli LNG dari Tangguh dengan harga US$ 10/MMbtu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain memasok ke Sumut, gas dari lapangan Tangguh yang dioperasikan oleh British Petroleum (BP) juga diekspor ke China sejak tahun 2002. Untuk 2016 ini, formulasi harga yang digunakan adalah 0,1050 x Japan Crude Cocktail (JCC) + 1,5.
Dengan JCC yang berada di kisaran US$ 50/bbl saat ini, maka akan diperoleh LNG Tangguh yang diekspor ke China sekarang harganya kurang lebih US$ 6,75/MMbtu.
Mahalnya harga gas di Sumut ini membuat PLN sampai-sampai mengusulkan pembukaan keran impor gas.
Sebab, bisa jadi harga LNG dari luar negeri lebih murah ketimbang LNG dari dalam negeri yang harganya di Sumut sudah mencapai US$ 10/MMbtu.
"Sekarang harga LNG relatif murah dari Timteng (Timur Tengah). Tapi kan impor dibatasi selama pasokan domestik masih ada," kata Direktur Pengadaan PLN, Supangkat Iwan Santoso, saat dihubungi detikFinance, kemarin.
Iwan menambahkan, harga gas yang ideal untuk PLN berkisar antara US$ 6-8/MMbtu.
"Idealnya US$ 6-8/MMbtu, terutama untuk di Sumatera dan Jawa. Kalau harga gas bisa US$ 8/MMbtu saja, biaya produksi listrik bisa Rp 900/kWh," tutupnya. (hns/hns)











































