Proyek 35.000 MW Direvisi, Dirut PLN: 10.000 MW Jadi 'Cadangan'

Proyek 35.000 MW Direvisi, Dirut PLN: 10.000 MW Jadi 'Cadangan'

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 01 Sep 2016 16:02 WIB
Proyek 35.000 MW Direvisi, Dirut PLN: 10.000 MW Jadi Cadangan
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Target penyelesaian program 35.000 Mega Watt (MW) mundur ke 2020. Pada 2019 nanti, ditargetkan 20.000 sampai 25.000 MW dulu yang sudah Commercial Operation Date (COD), sisanya tahun 2020.

Demikian disampaikan Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, yang saat ini juga menjabat sebagai Plt Menteri ESDM, usai rapat dengan Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir, Jumat pekan lalu.

Terkait hal ini, Sofyan menjelaskan, 10.000 MW yang dimundurkan targetnya itu dijadikan 'cadangan' saja. Jadi 10.000 MW yang dicadangkan ini adalah semuanya porsi PLN di proyek 35.000 MW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia tinggi dan membutuhkan tambahan pasokan listrik yang amat besar, barulah pembangunan 10.000 MW ini dikebut dan diselesaikan tahun 2019.

"Yang punya PLN saya simpan, kalau pertumbuhan ekonomi bagus, industri banyak ya saya lepas. Karena punya PLN, ini cadangan kalau perekonmian kita tumbuh," ujar Sofyan, saat ditemui sebelum rapat di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (1/9/2016).

Tapi kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berkisar di 5% seperti sekarang, pasti pertumbuhan konsumsi listrik juga rendah, tambahan pasokan listrik yang dibutuhkan tentu tak sampai 35.000 MW. Maka 10.000 MW yang dicadangkan bisa ditunda penyelesaiannya.

"Saya juga ingin 35.000 MW habis (di 2019), itu keinginan Presiden juga. Tapi kalau faktanya permintaan menurun, harus rasional saja. Jadi jangan disalahkan, kalau masyarakat nggak menyerap bagaimana? Yang penting (tambahan listrik) jangan 2.000-3.000 MW per tahun, tapi 5.000 MW per tahun. Mudah-mudahan pertumbuhan ekonomi bisa mengejar," paparnya.

Meski demikian, bukan berarti 10.000 MW yang dicadangkan tidak dibangun. Pembangunan pembangkit-pembangkit yang menjadi porsi PLN sudah dimulai, terutama untuk melistriki daerah-daerah terpencil dan terluar.

"Bukan berarti ini nggak akan jalan, karena kan itu (10.000 MW) untuk daerah terluar, dan itu kan nggak pakai IPP (Independent Power Producer/produsen listrik swasta). Misalnya begini, ada pulau banyak sekali yang belum ada listrik. Mau nggak mau ya pakai itu demi pulau terluar, dan itu dari (jatah PLN) 10.000 MW," pungkasnya. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads