Hal ini disampaikan Sudirman saat menjadi pembicara pada diskusi ketahanan energi yang diselenggarakan Sinergi Bakti Nusantara dan Kenta Institue di Universitas Gajah Mada (UGM), Jakarta, Sabtu (24/9/2016).
"Betapa seringnya kita terperangkap pada cara pandang dan sikap kerja yang gampang, kalau kurang impor saja. kan lebih murah. Tapi sebetulnya kita sedang membunuh national capacity," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dikaitkan dengan kebutuhan dan jenis pangan ke depan, itu akan makin lebar," ujarnya.
Kemudian adalah sektor energi, khususnya minyak. Menurut Sudirman, tidak jauh berbeda dari pangan, rentang antara kebutuhan minyak dengan produksi semakin lebar. Sementara pada sebelumnya, tidak ada kebijakan yang sangat progresif menyelesaikan persoalan tersebut.
"Energi makin hari gap-nya makin lebar," imbuhnya.
Sektor lainnya adalah industri pertahanan. Sebagai mantan pelaku industri pertahanan, Sudirman menyatakan bahwa dana yang dianggarkan pemerintah untuk belanja alutsista sangat besar. Namun 80% dari anggaran tersebut untuk membeli peralatan dari negara lain.
"Sebelum pak Jokowi masuk, itu we spend hundred trillion untuk belanja alutsista, yang masuk ke industri dalam negeri tidak sampai Rp 20 triliun artinya Rp 80 triliun pergi keluar. Artinya lagi memang daya mampu kita itu sangat rendah dan ketergantungan pada impor dan kapasitas luar sangat tinggi," papar Sudirman.
Sudirman pun menyampaikan satu filosofi tentang barisan tentara yang gagah, namun menggunakan peralatan impor. Hal tersebut menurutnya tidak akan membuat lawan grogi.
"Tapi kalau satu negara berbaris tentaranya, kemudian meskipun senjatanya tidak serapih senjata impor, meskipun diketahui bikinan sendiri, it makes something. Artinya national capacity sedang dibangun," tandasnya. (mkl/ang)











































