Untuk lapangan yang tingkat kesulitannya tinggi, tentu harga gasnya jadi lebih mahal. Tapi, menurut IPA, penyebab utama mahalnya harga gas untuk industri di negeri ini bukanlah sektor hulu.
Direktur IPA, Sammy Hamzah mengatakan, sektor midstream alias distribusi berkontribusi lebih besar terhadap tingginya harga gas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rantai pasokan gas di Indonesia tergolong panjang. Ada banyak perusahaan trader gas di Indonesia, tapi hampir semuanya tak punya infrastruktur untuk penyaluran, hanya bertindak sebagai calo pemburu rente saja tanpa modal.
Mereka mendapat alokasi gas, lalu menjualnya ke trader lain karena tak punya pipa untuk menyalurkan gas, dan begitu seterusnya hingga ke pembeli akhir. Trader ini membuat rantai pasokan gas menjadi panjang, harga gas di Indonesia menjadi tidak efisien.
Hampir seluruh industri membeli gas lewat trader. Maka tak heran harga gas yang di hulu masih US$ 5/MMBtu bisa menjadi US$ 9,5/MMBtu begitu sampai di industri yang menjadi pembeli akhir.
"Kalau bicara soal industri, mereka 90% atau mungkin 100% belinya dari trader, bukan langsung dari hulu. Jadi harga hulu tambah plus plus plus (margin trader), dia beli," ucap Sammy.
Maka, untuk menurunkan harga gas industri menjadi US$ 6/MMBtu, banyak masalah tata kelola gas yang harus dibenahi oleh pemerintahan Jokowi. Salah satunya adalah trader-trader tak bermodal yang membuat rantai pasokan gas jadi panjang dan mahal ini.
"Bagaimana bisa merealisasikannya (harga gas US$ 6/MMBtu), itu pertanyaannya. Efisien tidak rantai pasokan kita?" tutupnya. (drk/drk)











































