Sesuai dengan arahan dari Jokowi, PT Pertamina (Persero) pun tengah mengupayakan agar seluruh daerah terdepan, terluar, dan terpencil di Indonesia bisa merasakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sama dengan harga normal di wilayah lainnya di Indonesia.
Menteri ESDM Ignasius Jonan gembira mendengan kabar tersebut. Pihaknya pun mendukung penuh penerapan BBM Satu Harga di seluruh Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jonan menambahkan, ketimpangan harga barang-barang di Papua dengan di Jawa bisa berkurang bila harga BBM sama.
"Luar biasa, itu mengurangi ketimpangan, mendorong kemakmuran di Papua," imbuhnya.
Saat ini, harga BBM di Papua jauh di atas rata-rata harga nasional, mulai dari Rp 60.000/liter sampai Rp 100.000/liter. Pertamina kini sedang menjalankan misi untuk memenuhi BBM satu harga di delapan wilayah di Papua.
Delapan wilayah tersebut di antaranya pegunungan Arfak di Papua Barat, Illaga di Kabupaten Puncak, Kabupaten Tolikora, Yahukimo, Nduga, Memberamo Tengah, Memberamo Jaya, dan Kab Intan Jaya. Daerah-daerah ini kerap sulit diakses baik via laut, sungai, darat maupun udara untuk tujuan pengiriman BBM tersebut.
Untuk menjangkau wilayah-wilayah tersebut, sampai saat ini Pertamina telah menginvestasikan tiga buah pesawat air tractor yang akan mengangkut BBM ke wilayah-wilayah pegunungan dan beberapa moda transportasi pengangkut BBM lainnya untuk menjangkau jenis wilayah lainnya.
Adapun biaya untuk suplai BBM ke seluruh wilayah tersebut menjadi tanggung jawab (subsidi) dari Pertamina. Hal ini disebut dengan subsidi silang, yang mana keuntungan di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia digunakan untuk mensubsidi ongkos angkut BBM di wilayah terdepan, terluar dan terpencil di Indonesia.
Dengan harga BBM yang turun jauh dan sama secara nasional ini, maka biaya-biaya logistik diharapkan bisa lebih murah sehingga harga-harga barang lain ikut turun, sehingga masyarakat Indonesia di wilayah terpencil bisa mengejar ketertinggalannya. (drk/drk)











































