Keenam infrastruktur kelistrikan tersebut yakni: Pembangkit Listrik tenaga air Orya Genyem 2x10 MW. Pembangkit listrik Tenaga Mini Hidro Prafi 2x1,25 MW, Saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 70 kV Genyem -Waena- Jayapura sepanjang 174,6 km sirkit.
Kemudian, saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 70 kV Holtekamp - Jayapura sepanjang 43,4 km sirkit, Gardu Induk Waena- Sentani 20 MVA, dan Gardu Induk Jayapura 20 MVA. Keseluruhan total proyek menghabiskan dana Rp 989 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Infrastruktur-infrastruktur kelistrikan yang baru diresmikan Jokowi ini diharapkan dapat menjadi tonggak untuk pembangunan berbagai infrastruktur listrik lainnya di Papua.
"Ini GI, transmisi, dan PLTA (pembangkit listrik tenaga air) besar pertama di Papua. Pertama kali yang bisa kita selesaikan. Kita harapkan dapat menjadi tonggak pembangunan listrik di Papua, untuk lompatan ke depan," kata Haryanto kepada detikFinance, Selasa (18/10/2016).
Dengan beroperasinya 6 infrastruktur kelistrikan ini PLN mampu menghemat pemakaian BBM hingga Rp 161 miliar per tahun.
Saat ini, total daya mampu listrik di di Papua dan Papua Barat 294 MW, dengan beban puncak 242 MW, pertumbuhan beban rata-rata konsumsi listrik 8% pertahun, dan jumlah pelanggan sebanyak 521.000 pelanggan.
Pembangunan infrastruktur kelistrikan sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, PLN juga melakukan pelayanan berupa melistriki 14 Ibu Kota Kabupaten di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yang belum berlistrik PLN dengan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dengan target selesai tahun 2017.
Kemudian juga melistriki seluruh Ibu Kota Kecamatan dengan target selesai tahun 2019, dan melistriki pulau terluar dan daerah perbatasan dengan target selesai tahun 2019, serta meningkatkan jam operasi Listrik Desa menjadi 24 jam sehari dengan target selesai 2019. (ang/ang)











































