Delapan tangki ini tersebar di Pulau Mentawai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Utara (Kaltara), Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.
"Tangkinya 8 ada di Mentawai, NTT, NTB, Kaltara, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (20/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya tangki-tangki BBM di daerah terpencil ini diharapkan dapat memperkuat stok BBM di masing-masing lokasi. Mengingat, lokasi terpencil umumnya sering terkendala masalah pengiriman dan distribusi seperti kendala cuaca atau pun gelombang laut.
Keberadaan tangki ini dapat menjaga ketahanan stock BBM bila terjadi pengiriman. Masyarakat tak perlu khawatir lagi BBM tak tersedia karena terkendala masalah pengiriman karena bisa langsung memanfaatkan cadangan BBM yang disimpan dalam tangki-tangki tersebut.
"Kapasitas bervariasi antara 500-600 KL. Yang jelas untuk 2-3 bulan kebutuhan di tempat itu," ucap Wirat.
Tangki-tangki BBM di 8 wilayah remote itu akan dibangun dengan dana dari APBN sebesar Rp 136 miliar. Pembangunannya memakan waktu kurang lebih 2 tahun.
"Rp 136 miliar tapi ini 2 tahun konstruksinya," tutupnya.
Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo pada Selasa (18/10/2016) lalu meresmikan Program BBM Satu Harga di Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua. Jokowi ingin harga bahan bakar minyak (BBM) sama di seluruh Indonesia agar berkeadilan.
Jokowi memerintahkan, kalau harga premium dan solar di Jawa Rp 6.450/liter dan Rp 5.150/liter, warga Papua juga harus bisa membeli dengan harga yang sama. Saat ini harga BBM di daerah pegunungan Papua sangat mahal, Rp 60.000-100.000/liter. (dna/dna)











































