Kementerian ESDM juga membuat kajian soal perbandingan harga gas di Indonesia dengan negara-negara tetangga. Bagaimana hasilnya?
Menurut Kementerian ESDM, rata-rata harga gas industri di Malaysia adalah US$ 6,6/MMBtu. Harga di hulu US$ 4,5/MMBtu, lalu ada biaya transmisi US$ 1,6/MSCF, dan biaya distribusi US$ 0,5/MSCF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian industri di China membeli gas dengan harga rata-rata US$ 15/MMBtu. Rinciannya, di hulu US$ 8/MMBtu, ongkos transmisi US$ 3/MSCF, distribusi US$ 4/MSCF.
Sedangkan di Indonesia harga gas industri rata-rata US$ 8,3/MMBtu. Di hulu US$ 5,9/MMBtu, tarif pipa transmisi US$ 1,5/MSCF, dan tarif pipa distribusi US$ 1,5/MSCF.
"Di Indonesia (harga gas) US$ 8,3/MMBtu, Thailand US$ 7,5/MMBtu, Malaysia US$ 6,6/MMBtu, China US$ 15/MMBtu," papar Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, dalam diskusi di Gedung Migas, Jakarta, Senin (24/10/2016).
Dia menambahkan, harga gas di Malaysia lebih murah karena mereka tidak menjadikan gas sebagai komoditas, tidak ada penerimaan negara dari gas. Di hulu, Negeri Jiran mengorbankan pendapatan bagian negara, hanya ada pendapatan bagian kontraktor saja.
Sedangkan Thailand harga gasnya dipatok berdasarkan harga minyak dunia. Ketika harga minyak sedang rendah seperti sekarang, industrinya bisa memperoleh gas dengan harga murah.
Tapi ketika harga minyak tinggi, tentu industri mereka tak bisa menikmati gas murah lagi. Sedangkan China harga gasnya mahal karena sebagian besar berasal dari impor.
Indonesia tidak memberikan subsidi untuk gas industri seperti Malaysia. Formulasi harga gas domestik juga umumnya tidak berpatokan pada harga minyak, tapi bersifat tetap (fix) plus kenaikan tahunan (eskalasi) yang juga tetap, misalnya 2% per tahun.
"Malaysia tidak ada share (bagian) untuk negara, mereka menggunakan sistem subsidi. Thailand harga gasnya di-link ke harga minyak, kalau minyak tinggi jadi tinggi. China lebih mahal karena mereka banyak gas impor," Wirat menjelaskan.
Diakui Wirat, memang benar harga gas di Indonesia relatif mahal dibanding Malaysia dan Thailand, tapi selisihnya tidak besar. "Jadi Indonesia relatif tinggi tapi nggak jauh banget. Memang lebih tinggi misalnya dari Thailand, tapi nggak jauh," tutupnya. (wdl/wdl)











































