Tapi menurut PLN, itu tak bisa jadi satu-satunya patokan kemajuan proyek 35.000 MW. PLN membuat perhitungan untuk setiap tahapan.
Misalnya untuk proyek yang sudah selesai pembebasan lahannya, sudah financial close (mendapat kepastian pendanaan), maka sudah 50% karena tinggal dikebut saja konstruksinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada bobot untuk setiap tahapan yang berhasil dilalui. Atas dasar inilah PLN berani menyatakan progres pembangkit di 35.000 MW sudah 41%.
"Begini, setiap tahapan tadi dihitung bobotnya. Dari mulai proses perencanaan dan pengadaan. Sebelum EPC (Engineering Procurement Construction) kan lahannya mesti dicari, diperiksa, dites tanahnya, sampai tanah itu dibeli, dibayar, itu kan progres. Izin AMDAL, IMB, izin-izin lain itu kan juga progress. Baru habis itu masuk ke proyek. Proyek ada bikin desain, engineering-nya itu kan juga progres. Kalau sudah sampai konstruksi, itu bisa 50%. Kan tinggal bayar-bayar saja, nunggu selesai dibangun," paparnya.
Kemudian untuk pembangunan jaringan transmisi, PLN mengklaim perkembangannya sudah 48%. Sebab, sebagian besar lahan untuk transmisi sudah dibebaskan. Yang paling sulit dari pembangunan transmisi adalah pembebasan lahannya, kalau tahapan ini sudah terlewati boleh dibilang sudah sebagian besar masalah terselesaikan.
"Kalau untuk transmisi sudah 48%. Kok besar sekali? Karena pembebasan lahan dan pembangunan tapak pondasi itu komponen progres paling besar untuk transmisi, bobotnya paling besar. Memang kalau sudah narik kabel biayanya mahal, tapi narik kabel itu bukan pekerjaan lama. Yang lama itu pembebasan lahan dan pembangunan tower transmisi," ujar Sofyan.
Dia menambahkan, cepatnya pembangunan transmisi listrik ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, misalnya kejaksaan yang mengawal proses-proses pembebasan lahan, dan pemerintah daerah (pemda) yang juga aktif mendukung.
"Saya sangat memuji beberapa pemda, antusiasme mereka yang mengetahui bahwa listrik ini untuk rakyatnya," tutur Sofyan. (hns/hns)











































