Harga BBM Papua Sama Dengan di Jawa, Rini: Tercapai Setelah 70 Tahun Merdeka

Harga BBM Papua Sama Dengan di Jawa, Rini: Tercapai Setelah 70 Tahun Merdeka

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Kamis, 03 Nov 2016 20:20 WIB
Harga BBM Papua Sama Dengan di Jawa, Rini: Tercapai Setelah 70 Tahun Merdeka
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menegaskan kepada setiap BUMN agar bisa meraih untung dalam menjalankan perusahaan. BUMN yang bisa meraih keuntungan dapat menegaskan kehadiran negara bagi bangsa dan rakyat Indonesia sebagaimana dilakukan Pertamina dengan harga BBM yang sama untuk semua wiIayah Indonesia, termasuk di Papua.

"Saya harus terima kasih dengan Direktur dan Wakil Direktur Pertamina yang buat program BBM satu harga di Papua yang tercapai setelah 70 tahun merdeka. Dan finalisasi di Kalimantan juga, harga BBM sama semua di seluruh pelosok Indonesia," kata Rini saat acara Forum BUMN, Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (3/11/2016).

Keberadaan BUMN sebagai entitas bisnis yang menguntungkan dan memberikan penerimaan bagi negara pun akan terus didorong. Ia pun menegaskan, pendanaan untuk program BBM satu harga sepenuhnya dibiayai oleh Pertamina.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini tidak ada dana dari pemerintah, ini semua dana BUMN. Biarpun sedikit rugi, tapi tak apa, karena Pertamina tahun ini untungnya rada banyak. Jadi rugi sedikit untuk kepentingan rakyat nggak apa-apa," tegasnya.

Dengan adanya program subsidi silang yang dilakukan oleh Pertamina, ditargetkan akhir tahun ini seluruh Indonesia bisa sama harga BBM nya.

"Memang target kita sampai akhir tahun (BBM satu harga). Makanya saya tekankan kita harus kejar keuntungan. Tapi juga berfungsi sebagai agen pembangunan. Jadi kalau kita untung, fungsi kita sebagai agen pembangunan bangsa bisa dilakukan," tuturnya.

Sementara itu Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan kerugian yang diterima oleh Pertamina masih bisa ditutup oleh efisiensi yang terus dilakukan oleh perusahaan. Ia menegaskan, ini tidak akan mengganggu struktur keuangan perusahaan.

"Ini bukan soal untung rugi. Kenaikan di cost itu masih bisa dicover dengan efisiensi. Jadi masalahnya hanyalah cost. Cost untuk daerah terpencil kan volumenya kecil, sekitar 5%. Kalau toh naik 10% dibanding cost Pertamina secara keseluruhan, kenaikannya nggak terlalu besar. Jadi masih bisa ditutup dengan langkah-langkah Pertamina," tandasnya. (dna/dna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads