Meski Harga Batu Bara Naik, Kinerja Emiten Tambang Diprediksi Masih Tertekan

Meski Harga Batu Bara Naik, Kinerja Emiten Tambang Diprediksi Masih Tertekan

Muhammad Idris - detikFinance
Minggu, 06 Nov 2016 15:18 WIB
Meski Harga Batu Bara Naik, Kinerja Emiten Tambang Diprediksi Masih Tertekan
Foto: Reuters
Jakarta - Harga batu bara mulai berangsur membaik pada bulan ini. Kementerian ESDM menetapkan harga batu bara acuan (HBA) pada November 2016 sebesar US$ 84,89 per ton. Harga tersebut naik 23% dibandingkan pada Oktober 2016 sebesar US$ 69,07 per ton.

Meski demikian, menurut Kepala Riset Universal Broker Securities, Satrio Utomo, kenaikan harga batu bara tersebut tidak akan mengerek kinerja emiten tambang batu bara.

"Batu bara memang naik sejak awal bulan, tapi masalahnya harga minyak malah turun, itu kabar buruknya. Selama minyak turun terus, harga batu bara kenaikannya diprediksi tidak akan lama, ujung-ujungnya ke kinerja emiten," jelas Satrio kepada detikFinance, Minggu (6/11/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

HBA sendiri dihitung berdasarkan rata-rata 4 indeks harga batu bara yang umum digunakan dalam perdagangan yaitu Indonesia Coal Index, Platts59 Index, New Castle Export Index, dan New Castle Global Coal Index. HBA pada November 2016 ini tercatat sebagai harga tertinggi sejak Mei 2013 yang saat itu ditetapkan sebesar US$ 85,33 per ton.

"Kinerja emiten masih akan tertekan jika harga minyak masih turun terus," kata Satrio.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (4/11/2016), harga minyak mentah AS turun 68 sen atau 1,5% ke level US$ 44,66 per barel. Sementara, harga minyak mentah Brent turun 51 sen atau 1,1% menjadi US$ 46,35 per barel. (drk/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads