"Saya hari ini kirim surat pada Pak Presiden dan ditembuskan pada Menteri ESDM, BUMN, dan Perindustrian agar PJT II bisa jual listrik langsung ke industri," jelas Dedi, Senin (7/11/2016).
Dedi mengatakan, selama ini industri membeli listrik dari PLN dengan harga cukup tinggi. Padahal, di Kabupaten Purwakarta terdapat pembangkit listrik dengan daya besar yang bisa menjual listrik langsung pada industri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, penggunaan batu bara sebagai bahan bakar sangat berdampak pada lingkungan. Bukan hanya menyebabkan persediaan batu bara semakin menipis, namun mulai dari penambangan, pengangkutan, hingga penggunaannya memakan biaya yang cukup besar.
"Bayangkan kalau itu diperbolehkan berapa efisiensi biaya produksi yang didapat. Dihitung-hitung bisa efisiensi 70-80%. Kita itu aneh, kan ada air sebagai sumber daya yang terbarukan ini malah pakai batu bara karena beli dari PLN mahal," katanya.
Sementara itu, Dirut PJT II, Joko Saputro menilai, hal tersebut bisa terealisasi. Pasalnya, selama ini, penjualan listrik dari PJT ke PLN hanya sebatas pembicaraan MoU.
Joko mengatakan, selama ini, pihaknya menjual listrik ke PLN seharga Rp 290. Sementara PLN menjual kembali pada perusahaan di atas Rp 1.000 atau sekira 80% dari Tarif Dasar Listrik (TDL).
"Untuk pengembangan industri di wilayah Purwakarta saya rasa bisa," tuturnya.
Soal kesiapan produksi listrik, Joko mengaku, hal tersebut bisa mencakup industri-industri di Kabupaten Purwakarta. Terlebih saat ini pihaknya telah melakukan studi untuk menambah daya produksi listrik.
"Saat ini kita masih diangkat 187 ribu MW, saat ini masih studi nanti bisa bertambah 600 MW. Mudah-mudahan tahun depan studinya selesai," pungkas Joko. (drk/drk)











































