Arcandra Tahar Bicara Soal Tantangan di Program 35.000 MW

Arcandra Tahar Bicara Soal Tantangan di Program 35.000 MW

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 10 Nov 2016 14:48 WIB
Arcandra Tahar Bicara Soal Tantangan di Program 35.000 MW
Foto: Pool
Jakarta - Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) hari ini, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar memaparkan berbagai masalah di sektor energi, termasuk di program 35.000 MW.

Dia menerangkan, proyek 35.000 MW disusun dengan asumsi pertumbuhan ekonomi mencapai 7% per tahun, sehingga kapasitas listrik harus meningkat dengan rata-rata kurang lebih 8% per tahun.

"Program 35.000 MW disusun berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi 7%, elastisitas 1%, maka muncul hitung-hitungan 35.000 MW. Apa masalah di 35.000 MW? Berapa yang akan tercapai di 2019? Saya coba melihat permasalahannya ada di mana," kata Arcandra saat FGD di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Kamis (10/11/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebutkan, ada berbagai masalah yang menghambat realisasi program 35.000 MW di lapangan. Di antaranya ialah sulitnya pembebasan lahan, alotnya negosiasi harga listrik antara produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) dengan PLN, panjangnya proses pengadaan pembangkit listrik, rumitnya perizinan, kinerja IPP dan kontraktor, dan sebagainya.

"Pertama penyediaan lahan, sudah ada solusinya di Perpres Nomor 4 Tahun 2016. Kedua nego harga PLN dan IPP. Ketiga proses pengadaan. Keempat proses perizinan. Salah satu yang kita lakukan di perizinan adalah menyerahkannya ke PTSP di BKPM. Kelima masalah kinerja pengembang dan kontraktor. Selanjutnya manajemen proyek. Selanjutnya koordinasi lintas sektor. Selanjutnya jaminan pemerintah, tata ruang, dan tata hukum. Nanti kita diskusi," ucapnya.

Diakuinya, memang berat membangun pembangkit-pembangkit listrik hingga 35.000 MW sampai 2019. Tapi meski target 35.000 MW tak tercapai 100%, Arcandra yakin Indonesia tak akan krisis listrik. Toh pertumbuhan ekonomi masih di bawah 7%, jadi tambahan listrik yang diperlukan juga lebih sedikit.

Kalau selesai sekitar 20.000 MW saja, itu sudah cukup untuk mendukung pertumbuhan industri di dalam negeri. "Kalau tidak tercapai 35.000 MW, kita turunkan pertumbuhan ekonomi 5,2%, yang tercapai sekitar 20.000 MW, industrialisasi masih akan tetap berjalan. Kita optimistis bahwa itu bisa kita penuhi," tutupnya. (ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads