Follow detikFinance
Kamis 10 Nov 2016, 16:28 WIB

Arcandra Tahar: Energi Terbarukan Cocok untuk Melistriki Daerah Terpencil

Michael Agustinus - detikFinance
Arcandra Tahar: Energi Terbarukan Cocok untuk Melistriki Daerah Terpencil Foto: Michael Agustinus-detikFinance
Jakarta -

Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) adalah suatu keharusan, tuntutan zaman, bukan lagi pilihan. Cadangan energi yang berasal dari fosil, yaitu minyak bumi, gas, dan batu bara sudah semakin sedikit cadangannya. Akan terjadi krisis energi kalau terus-terusan mengandalkan sumber energi fosil yang tidak terbarukan.

Polusi yang ditimbulkan oleh energi fosil juga merusak lingkungan. Dengan kondisi bumi yang sedang mengalami pemanasan global (global warming), emisi karbon harus dikurangi. Artinya, penggunaan energi fosil harus dipangkas.

Itulah sebabnya semua negara di dunia harus mulai mengembangkan EBT, itu demi ketahanan dan kedaulatan energi di masa mendatang sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Demikian diungkapkan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar dalam Forum Group Discussion yang diselenggarakan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Kamis (10/11/2016).

"Renewable energy is a must, bukan lagi pilihan. Dunia akan bergerak ke EBT, bumi kita semakin tua," kata Arcandra.

Pengembangan EBT perlu dukungan dari pemerintah, harus ada insentif-insentif supaya pihak swasta tertarik untuk menggarapnya. Pada tahap awal pengembangannya, harga EBT memang pasti relatif mahal dibandingkan energi fosil.

Tapi setelah skala produksi dan teknologinya berkembang, harganya akan semakin murah dan mencapai titik di mana bisa bersaing dengan energi fosil.

"Tidak ada negara di dunia yang memulai EBT tanpa kehadiran pemerintah, ada insentif di awalnya. Ketika skala ekonominya berkembang, teknologinya berkembang, baru EBT bisa bersaing dengan fossil fuel," cetusnya.

Di Indonesia, harga EBT yang tinggi ini menjadi masalah tersendiri. PT PLN (Persero) sebagai pembeli tunggal listrik yang dihasilkan EBT merasa keberatan kalau harus menanggung harga yang tinggi.

Di satu sisi, PLN memang instrumen negara yang menjalankan pelayanan kepada masyarakat. Tapi sebagai BUMN, PLN juga harus untung. Maka harus ada solusi untuk harga EBT yang tinggi itu.

Beberapa cara telah dicoba pemerintah untuk menutup mahalnya harga EBT yang harus dibeli PLN itu, misalnya dengan menganggarkan subsidi EBT di APBN. Tapi subsidi EBT ditolak oleh DPR, maka harus dicarikan jalan lain.

Sementara belum ada subsidi EBT, Arcandra meminta EBT dikembangkan dulu di daerah-daerah remote yang terisolasi, sulit dijangkau. Sebab, EBT akan terasa murah kalau dikembangkan di daerah terpencil.

Saat ini PLN banyak menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) untuk melistriki daerah terluar, terpencil, dan terisolasi. Solar yang dibakar untuk PLTD kadang harus diangkut menggunakan pesawat, harganya jadi mahal sekali. Kalau PLTD itu bisa digantikan dengan pembangkit listrik yang memakai EBT, PLN bisa lebih efisien.

(hns/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed