Normalnya, yang dilelang hanya satu jenis pembangkit listrik, misalnya PLTS saja atau PLTD saja. PLN mengusulkan agar beberapa pembangkit bisa dikombinasikan beserta jaringan distribusinya digabung menjadi 1 paket, jadi Independent Power Producer (IPP/produsen listrik swasta) pemenang lelang membangun pembangkit listrik 'hybrid' sekaligus jaringan, bukan hanya 1 jenis pembangkit saja.
Pembangkit hybrid ini rencananya untuk melistriki daerah-daerah terpencil. Dengan pembangkit kombinasi ini, PLN bisa melistriki daerah terpencil selama 24 jam dengan biaya lebih efisien, tidak melulu tergantung pada PLTD yang solarnya mahal. Skema ini cocok untuk melistriki daerah-daerah seperti pedalaman Papua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangkit listrik hybrid akan disesuaikan dengan potensi energi di masing-masing daerah. Misalkan untuk daerah yang sinar mataharinya cukup, bisa memakai PLTS, atau yang anginnya kuat bisa memakai Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).
Pada siang hari, listrik yang digunakan dari PLTS. Kemudian saat malam sudah tidak ada sinar matahari, gantian PLTD yang dinyalakan untuk memasok listrik. Dengan begitu daerah terpencil bisa mendapat listrik 24 jam, tapi PLN juga bisa tetap efisien.
PLN telah meminta izin kepada Kementerian ESDM agar skema ini diberi payung hukum, saat ini masih dalam pembahasan.
"Sudah mulai pembahasan, tapi belum selesai. Kalau di remote, pembangkitnya satu PLTS, di-hybrid dengan diesel atau gas. Kalau sustain 24 jam harus hybrid," ucapnya.
Paket yang ditawarkan kepada swasta tentu harus dibuat semenarik mungkin, harus cukup ekonomis. Maka harus diperhitungkan skala pembangkit listrik, jumlah penduduk, dan luasnya jaringan.
"Jaringan distribusinya dilihat dari jumlah penduduk, kita sedang membuat kajian, kita hitung mana yang paling baik dari keandalan pasokan dan harga. Memang harus digabung, misalnya dibuat 1 cluster dari beberapa lokasi. Pasti ada minimum skalanya berapa. Jadi kita harus membuat paket yang menarik untuk investasi," tutur Nicke.
Tapi meski swasta yang membangun semua pembangkit berikut jaringannya, tapi PLN tetap menjadi off taker. Swasta tidak menjual listrik langsung ke masyarakat, melainkan ke PLN, lalu PLN yang menjualnya ke masyarakat.
Tujuannya supaya tarif listrik tetap berkeadilan, sama di seluruh Indonesia. Kalau swasta yang menjual listrik ke masyarakat menggunakan mekanisme pasar, listrik di daerah terpencil pasti mahal sekali.
Bila persetujuan dari pemerintah bisa dikantongi dalam waktu dekat, PLN akan segera melelang paket-paket proyek pembangkit hybrid beserta jaringan di daerah terpencil.
"Kita harapkan akhir Desember ini, kita sudah punya paket-paket yang ditawarkan kepada pengembang. Kalau penetapan harganya sudah kita sepakati, skema hybrid sudah diizinkan pemerintah, kita lelang," tutupnya. (drk/drk)











































