Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) ESDM, Rida Mulyana, menjelaskan pemangkasan target tersebut berdasarkan pertimbangan dari pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5%.
Lebih rendah dari asumsi pertumbuhan ekonomi saat rencana pembangunan 35.000 megawatt tersebut dibuat. Kala itu, sambung Rida, asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok sekitar 7%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Target minimum sebesar 19 ribu megawatt itu sendiri termasuk ke dalam margin sebesar 30% dari kebutuhan utama.
"Jadi Target minimum 19 ribu megawatt masuk margin 30%. 7 ribu diantaranya FTP (Fast Track Program) 1 dan 2," lanjut Rida.
Dari target minimum 19 ribu megawatt itu sendiri, dikatakan Rida, telah mampu untuk menopang pertumbuhan ekonomi RI di atas 5%. Selain itu, target tersebut juga dikatakan mampu untuk mencukupi kebutuhan listrik.
"Itu (pembangunan 19.000 MW) sudah cukup kawal ekonomi 5,1%," tutur Rida. (dna/dna)











































