Meramal Harga Minyak Dunia di Tengah Ketidakpastian

Dwi Soetjipto - detikFinance
Selasa, 29 Nov 2016 08:24 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Harga minyak dunia selama dua tahun terakhir ini seperti melihat permainan 'yo-yo'. Naik dan turun sejak tahun 2015 lalu. Sepanjang tahun lalu harga turun drastis dan kemudian sempat rebound pada awal tahun ini hingga kemudian jari ini bergerak naik dan turun.

Meramalkan ke mana arah pergerakan harga minyak untuk jangka waktu panjang bukan pekerjaan yang mudah, tetapi hal tersebut harus dilakukan karena sangat berkaitan erat dengan kondisi ekonomi dunia, untuk menghitung pendapatan negara serta berpengaruh pada stabilitas politik dalam negeri dan juga kawasan.

Ada beberapa faktor yang bisa dijadikan sebagai patokan awal. Pertama, tentu saja adalah produksi minyak dunia itu sendiri. Kedua, permintaan dunia dan ketiga adalah apa yang disebut sebagai risiko politik. Kalau mau bersikap optimistis, maka atas dasar ketiga faktor di atas bisa dikatakan bahwa harga minyak akan mengalami sedikit kenaikan. Tapi saya tentu tidak berani mengatakan bahwa ini berarti kembali ke harga era sebelum 2015.

Pertemuan OPEC atau organisasi negara-negara eksportir minyak pada tanggal 30 November 2016 mendatang akan menentukan nasib 'emas hitam' itu setidaknya untuk tahun depan. Ini pun masih diikuti dengan pertanyaan besar, apakah negara-negara anggota OPEC bisa mencapai kesepakatan untuk membatasi produksi mereka yang dalam praktik hanya disepakati di ruang pertemuan saja. Dan belum mampu pula dijawab, apakah OPEC mampu bersepakat dengan negara-negara produksi minyak non-OPEC seperti Rusia hingga kesepakatan mereka menjadi efektif.

Memang OPEC sepakat mengurangi produksi minyak antara 1-2% dengan catatan bahwa rincian bentuk kesepakatan untuk pengurangan produksi tersebut baru akan dibicarakan pada pertemuan OPEC mendatang. Berita baiknya, Presiden Rusia Vladimir Putin setuju untuk mengurangi produksi minyak mereka. Meskipun ini tidaklah cukup sebagai penjamin.

Jalan Panjang
Agar kita jangan terbuai oleh tebak-menebak untuk menyenangkan diri sendiri, saya masih menyimpan pertanyaan bernada pesimistis, apakah nanti OPEC benar-benar mampu mencapai sebuah konsensus dalam pertemuan mereka mendatang di Iran. Salah satu masalah yang sensitif adalah bagaimana merumuskan mengenai 'jatah' pemotongan setiap anggota OPEC, karena menyangkut pula faktor apakah situasi politik dan ekonomi masing-masing anggota mampu menerima rumusan tersebut. Ini persoalan klasik sejak puluhan terakhir, dan tidak pernah ditemukan jalan keluarnya.

Belum lama ini Ali Kandor, Managing Director dari National Iranian Oil Co terang-terangan menolak perhitungan produksi minyak mereka, padahal angka tersebut hendak dijadikan dasar perhitungan mengenai produksi minyak. Saya mendapat informasi bahwa Irak dan Venezuela juga sudah menyatakan keberatan mereka. Jadi, tanpa ada persetujuan mengenai isu terpenting OPEC yaitu mengenai jatah pengurangan, berarti masih terbentang sebuah jalan yang panjang penuh krikil ketidakpastian dalam memprediksi harga minyak dunia.

Keberatan negara seperti Iran, Irak, dan Venezuela patut dimengerti, karena ketiga negara tersebut menghadapi persoalan yang berat di dalam negeri mereka sendiri. Irak masih dalam suasana perang yang tentu saja memerlukan alokasi dana yang besar untuk menghadapinya. Venezuela kita sedang dalam situasi ekonomi dalam negeri yang rumit dan belum ada tanda-tanda bahwa pemerintah sekarang mampu mengatasi krisis ekonomi dan politik di dalam negeri mereka.

Baik Irak, Venezuela maupun Iran mempunyai jumlah penduduk yang cukup besar dan semua memerlukan dana yang besar yang antara lain bisa didapatkan dari ekspor minyak mereka yang tinggi. Ini sedikit beda dengan situasi negara-negara OPEC lain seperti Arab Saudi, UAE, atau Kuwait yang relatif punya jumlah penduduk kecil sehingga posisi fiskal mereka lebih terkendali.

Jadi wajar apabila kita melihat bahwa pasokan minyak akan naik lagi tahun 2017 mendatang. Menurut prediksi International Energy Agency (IEA) bulan September lalu saja, ada beberapa ladang minyak baru yang sudah berproduksi di Rusia maupun Kazakhstan, sementara negara anggota OPEC memproduksi 33,6 juta barel setiap hari (Barrels Per Day, BPD) yang merupakan rekor tertinggi.

Menurut IEA, Kazakhstan memproduksi minyak yang sudah besar dari ladang besar mereka di lapangan Kashagan yang membuat produksi mereka akan melimpah dari hanya sekitar 90.000 BPD hingga mencapai 230 ribu BPD pada akhir tahun ini, dan menjadi 370 ribu pada akhir 2017 mendatang.

Ini ditambah dengan shale-oil yang merupakan 'berkah' Amerika Serikat. Pesatnya teknologi dalam shale-oil ini selama beberapa tahun terakhir membuat harga produksi semakin murah sekarang ini, dan ini tidak bisa mencegah naiknya produksi mereka di tahun-tahun mendatang. Tentu ini harus masuk perhitungan karena tingginya produksi shale-oil itu.

Secara singkat dapat dikatakan, bahwa sulitnya mengharapkan harga minyak dunia di tahun mendatang akan naik melebihi harga US$ 60 selama OPEC sendiri tidak bisa mengambil keputusan menyangkut pengurangan produksi mereka, yang disepakati dengan disiplin ketat anggota-anggotanya. Atau secara sederhana bisa dikatakan, bahwa naik dan turunnya tidak akan keluar dari angka US$ 60 ini.

Situasi Politik Global
Tidak ada yang berani mengatakan bahwa tahun 2017 mendatang akan menghadapi situasi yang aman dan damai. Pemilu Presiden AS yang hasilnya masih banyak dibicarakan di seluruh dunia sudah pasti akan mengubah tatanan dunia, mengingat kedudukannya sebagai adidaya dunia. Meskipun secara garis besar sikap Presiden-terpilih Donald Trump sudah bisa dipahami, tetapi bagaimana ia menentukan kebijakan luar negeri di bidang keamanan dan ekonomi belum bisa diketahui, sebelum ia dilantik menjadi Presiden awal bulan Januari 2017.

Di bagian lain dunia meskipun untuk pertama kalinya sejak terbentuk, ISIS menghadapi situasi yang tidak menguntungkan, sementara pasukan pemerintah Irak dan pemberontak Kurdi yang semakin mendekati markas mereka di kota Mossul, tetapi tidak serta merta ancaman ISIS dan ideologinya akan otomatis sirna.

Selama lima tahun terakhir mereka telah menyebar paham serta ideloginya ke banyak tempat di dunia. Mereka menyusupkan kader-kadernya ke negara-negara yang dianggap menjadi musuhnya, dan hingga hari ini mereka mampu melakukan aksi di beberapa kota besar di Eropa, sudah merupakan indikator jelas bahwa masalahnya tidak serta-merta selesai. Perlu diingat pula teritori di Syria dan sebagian kecil Irak masih tetap ada, berarti masih ada organisasi pemerintahan serta garis komando ke jaringan mereka.

Situasi dalam negeri di Libia, Syria, dan Yaman hingga sekarang masih tidak stabil serta punya potensi kuat untuk menjadi potensi besar ketidakstabilan kawasan. Karena berada di wilayah sensitif Timur Tengah, mau tidak mau ini mempengaruhi harga minyak dunia juga, sementara tetap ada ancaman keselamatan pengangkutan minyak di kawasan Bab-el-Mandeb, Teluk Aden, dan tanduk Afrika. Pembajakan atau penyerangan terhadap satu kapal pengangkut minyak bisa menyulut kenaikan harga di luar kendali.

Posisi Indonesia
Di luar ketidakpastian harga minyak dunia, saya pribadi tetap optimistis mengenai kondisi kita di Indonesia. Kenaikan harga minyak yang 'moderat' pada satu sisi tidak akan menyebabkan kegaduhan pada pertumbuhan dunia yang berpengaruh pada ekpor kita, tetapi sisi yang lain akan bisa tetap menghidupkan optimisme bisnis di industri minyak dan gas dalam negeri. Ini penting sekali.

Faktor lain yang menumbuhkan harapan di situasi ketidakpastian dunia justru adalah situasi politik dan keamanan di negeri kita. Pemerintahan Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla yang stabil serta jelas merupakan faktor positif ditambah dengan pertumbuhan kita yang tinggi dibanding banyak negara maju lain.

Kekurangan pasti ada, tetapi di tengah keseimbangan harga minyak yang baru di tahun 2017 mendatang kita optimistis melihat masa depan kita yang cerah bila kita mampu mengantisipasi lingkungan yang dinamis ini.

*) Dwi Soetjipto adalah President Director & CEO PT Pertamina (Persero) (wdl/wdl)