Nego Pertamina-Saudi Aramco Soal Kilang Cilacap Diperpanjang Sebulan

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 30 Nov 2016 18:27 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - PT Pertamina (Persero) dan Saudi Aramco pada 26 November 2015 lalu telah menyepakati Head of Agreement (HoA) untuk kerja sama, dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap.

Setahun pasca penandatanganan HoA tersebut, rencananya Pertamina dan Saudi Aramco akan membentuk Joint Venture (JV). Tenggat waktu pembentukan JV adalah 26 November 2016.

Namun, hingga tenggat waktu itu terlewati, Pertamina dan Aramco masih melanjutkan negosiasi. Masih ada beberapa hal yang perlu dirundingkan oleh jajaran elite Pertamina dan Saudi Aramco.

Alhasil, tenggat waktu diperpanjang selama 1 bulan hingga 26 Desember 2016.

"Kita sedang melakukan studi bersama di Reading, Inggris, harus di-back up dengan perjanjian, masih on. Yang dilakukan adalah perpanjangan, hanya 1 bulan," kata VP Strategic Planning, Business Development, and Operation Risk Pertamina, Achmad Fathoni, dalam diskusi di GKM Green Tower, Jakarta, Rabu (30/11/2016).

Achmad menjelaskan, tenggat waktu penandatanganan HoA II untuk pembentukan JV diperpanjang karena pembuatan Basic Engineering Design (BED) atau desain awal RDMP Cilacap ternyata lebih lama daripada yang diperkirakan. Maka HoA II ditunda karena BED belum rampung.

"HoA I untuk meng-cover studi BED. Ternyata BED-nya panjang karena optimasi, perhitungan teknis dan komersial memakan waktu lebih panjang. Jadi diperpanjang karena BED belum selesai," paparnya.

Setelah selesainya BED, tahap selanjutnya ialah pembuatan Front End Engineering Design (FEED) atau desain akhir yang lebih terperinci dibanding BED. Pertamina dan Saudi Aramco perlu menyepakati HoA II untuk payung hukum FEED proyek RDMP Cilacap. "HoA II didesain untuk mem-back up FEED," tukas Achmad.

Baik Pertamina maupun Saudi Aramco, sambungnya, masih berniat untuk meneruskan kerja sama di proyek modifikasi kilang Cilacap.

"Secara pembicaraan tingkat tinggi, masih ada keinginan untuk melanjutkan kerja sama yang di Cilacap," tutupnya.

Sebagai informasi, kilang Cilacap akan dimodifikasi hingga menjadi kilang minyak modern terbaik di Asia. Kapasitasnya akan naik dari 340.000 barel per hari (bph) menjadi 370.000 bph. Biaya investasinya berkisar US$ 4-5 miliar.

Selain itu, Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diproduksi bakal menjadi lebih berkualitas, standar produk bisa mencapai Euro 5. Proyek pengembangan kilang Cilacap ini juga akan meningkatkan kapasitas produksi petrokimia.

Dengan meningkatnya kapasitas produksi dan kompleksitas kilang, negara akan mendapat banyak manfaat, mulai dari ketahanan energi hingga penghematan devisa. Proyek RDMP Cilacap ditargetkan rampung pada tahun 2022. (hns/hns)