"Pembicaraannya dengan pihak Jepang mereka menawarkan grant (hibah) untuk membangun pembangkit listrik dari deep sea water," kata Susi saat ramah tamah dengan wartawan di rumah dinasnya, Kompleks Widya Candra, Jakarta, Jumat (9/12/2016).
Kendati demikian, lanjutnya, bantuan hibah tersebut sifatnya belum final. Beberapa negara lain pun mengajukan hibah tenaga listrik ramah lingkungan tersebut pada Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangkit listrik dengan konsep deep sea water sendiri dilakukan dengan memanfaatkan air laut bersuhu dingin di laut dalam, kemudian dipompa ke atas sehingga ada perbedaan suhu yang drastis dengan air laut permukaan untuk menggerakkan turbin.
Saat ini, teknologi ini belum banyak diaplikasikan di dunia, dan hanya Jepang yang memiliki teknologinya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Brahmantya Satyamurti, menjelaskan pembangkit listrik tersebut sangat layak diaplikasikan di wilayah kepulauan terpencil.
"Untuk wilayah terpencil dengan sedikit penduduk kan karakteristiknya berbeda dengan kontinental. Bagaimana melistriki pulau terluar ini dari sumber daya di situ. Bukan dengan pembangkit besar. Dan pakai solar pun mahal bawanya ke sana," ungkap Brahmantya.
Menurutnya, selain jadi pembangkit listrik, air dingin yang dipompa dari laut dalam ini juga bisa terpakai untuk budidaya ikan tuna di permukaan.
"Pakai deep sea water itu sangat bagus sekali buat budidaya ikan tuna. Jadi air perbedaan suhunya untuk hasilkan listrik, air dinginnya bisa dipakai untuk ikan tuna. Di Jepang sendiri saat ini baru satu, kapasitas 1 MW, tapi itu sudah besar untuk listrik di daerah terpencil," tutur Brahmantya. (dna/dna)











































