Pertama, ada kenaikan harga minyak dunia pasca kesepakatan organisasi negara-negara eksportir minyak untuk memangkas produksi hingga 1,2 juta barel per hari (bph). Sepuluh negara produsen minyak non OPEC, salah satunya Rusia. mengikuti komitmen itu. Mereka sepakat menurunkan produksi sebesar 500.000 bph.
Kesepakatan penurunan produksi itu membuat harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2017 naik US$ 2,28/barel menjadi US$ 53,78/barel. Sementara harga minyak jenis Brent naik US$ 2,29/barel menjadi US$ 56,62/barel. Maka harga bahan bakar minyak (BBM) per Januari 2017 juga naik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, sejak Oktober lalu sebenarnya Pertamina sudah jual rugi alias 'nombok' untuk solar subsidi. "Oktober kemarin solar harusnya naik. 1 Januari (2017) kami sudah defisit Rp 700/liter dengan harga Rp 5.150/liter, harga real-nya sudah di atas Rp 6.000/liter. Berani nggak pemerintah naikin?" ujarnya.
Ketiga, berbeda dengan Oktober 2016 lalu, pada Januari 2017 Pertamina sudah tidak bisa lagi menambal kerugian dari penjualan solar dengan keuntungan dari penjualan solar di bulan-bulan sebelumnya.
Keuntungan Pertamina dari penjualan solar subsidi pada 2016 ini tak bisa dipakai untuk 2017. Pembukuannya berbeda, penggunaannya tidak boleh dicampur aduk. Maka Pertamina tak bisa menutup defisit harga solar di 2017 dengan surplus dari tahun 2016.
"Ada kondisi yang berbeda. Solar sebetulnya kita sudah rugi sejak Oktober tapi kami nggak mau menaikkan karena kami masih punya untung untuk solar. Tapi Januari ini kan beda tahun, pembukuannya beda, nggak bisa digeser. Tabungan solar Pertamina nggak bisa digunakan menyeberang tahun," tutupnya. (ang/ang)











































