Menurut dia, tren harga yang positif ini diakibatkan adanya minat investor yang cukup baik seiring kembali menguatnya permintaan di pasar global.
"Kalau lihat outlooknya, harga nikel paling tidak terlihat ada pergerakan yang positif. Tapi ini sangat volatile, bergantung pada variabel apakah dia akan naik terus atau turun sangat tinggi," kata dia saat berbincang dengan media di Sorowako, Sulawesi Selatan, Kamis (15/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena untuk nikel, kita bisa memegang global market 30%. Artinya kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh pemerintah akan berdampak kepada dunia," ujar dia.
Selain itu harga nikel juga menerima dorongan dari produksi di Filipina. Hampir seperempat dari tambang nikel di negara itu telah dihentikan karena kekhawatiran atas lingkungan. Filipina sendiri adalah pemasok terbesar bijih nikel ke China.
Namun demikian, Nico memastikan PT Vale akan senantiasa berupaya untuk terus berkembang di tengah volatilitas harga komoditas seperti saat ini dan akan terus mengendalikan biaya-biayanya serta mengelola arus kasnya secara hati-hati.
"Jadi lihat trennya, ini bagus, tapi tantangannya masih tetap as back of the challenge. Tantangannya ya uncertainty dari aturan dan kebijakan yang ada. Kemudian perizinan-perizinan. Jadi kita juga musti menangkap opportunity yang ada. Karena animo investor di bidang nikel saya lihat perkembangannya cukup baik," pungkasnya.
Sebagai informasi, PT Vale Indonesia merupakan perusahaan tambang asal Brasil yang beroperasi di Indonesia. Area kontrak Vale saat ini mencakup kawasan seluas 118.445 ha yang tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.
Produk utama Vale Indonesia adalah nikel dalam Matte, yang kandungan rata-ratanya 78%, dengan jumlah rata-rata produksi nikel dalam Matte mencapai 75 ribu metrik ton per tahun, yang semuanya diekspor ke Jepang. (dna/dna)











































