Jumlah ini sendiri sesuai dengan Kontrak Karya Kerjasama (K3S) amandemen perseroan, di mana perseroan harus menuju produksi nikel sebanyak 90.000 metrik ton.
"Kita akan targetkan lebih tinggi dari 2015. Jadi kita ada target, sejalan dengan memenuhi kontrak amandemen, salah satunya adalah dengan kita investasi, tapi kita harus mencapai produksi 90.000 metrik ton. Jadi kita bergerak ke sana," katanya saat berbincang dengan media di Sorowako, Sulawesi Selatan, Kamis (15/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya kontrak tersebut, Vale tidak begitu khawatir dengan berapa besaran produksi nikel, karena semua akan diserap oleh Jepang. Untuk harga belinya, Vale mengikuti harga pasaran yang telah ditetapkan London Market Exchange (LME) dengan kurs dollar.
"Makanya menguatnya dollar pasti selalu ada plus minusnya ya. Karena kan dia akan bagus untuk yang denominated-nya (mata uangnya) dalam US$ (jual ekspor). Tapi yang paling penting lagi adalah harga nikelnya. Itu yang musti dimantain. Terlalu tinggi nggak bagus, terlalu rendah apalagi," ungkap dia.
Nico berujar, meski harga nikel diprediksi naik, namun perseroan tetap menjaga kinerja perusahaan dengan pengaturan biaya produksi, dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.
"Sekarang yang musti kita buat adalah bagaimana kita menjaga keberlanjutan itu. Karena supaya kalau harganya pun naik, kita juga nggak boleh terlena dengan harganya naik. Karena kita harus menyimpan cash yang cukup untuk investasi kita. Supaya kita kurangi apa yang kita pinjam-pinjam," tandasnya. (dna/dna)











































